Serba Serbi
Apa Kala Itu Sangat Mengerikan?
Kala atau waktu mempunyai banyak makna dalam berbagai tradisi baik di dalam tradisi agama, filsafat, spiritualitas, sains, dan seni
Penulis: Putu Supartika | Editor: Irma Budiarti
Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Menurut Ida Bagus Putu Suamba dalam acara Rembug Sastra Purnama Badrawada di Pura Jagatnatha, Denpasar, Sabtu (22/12/2018) malam, dikatakan bahwa kala atau waktu mempunyai banyak makna dalam berbagai tradisi baik di barat maupun timur di dalam tradisi agama, filsafat, spiritualitas, sains, dan seni.
"Di dalam ilmu-ilmu positif, waktu menjadi salah satu pembicaraan di samping hal-hal lain seperti massa, matter, energi, luas atau ruang, gravitasi, dan lain-lain. Penentuan saat gerhana matahari (surya graha) dan bulan (candra graha)---baik penuh maupun sebagian---terkait dengan waktu perputaran bumi dan bulan mengelilingi matahari," kata Suamba.
Peradaban-peradaban kuno seperti Mesir Kuno, China, India, suku Inca di Amerika Latin sudah melahirkan sistem perhitungan waktu (kalender) dimana waktu menjadi pokok pencarian.
Hal inilah yang mencerminkan betapa masalah waktu sudah menjadi perhatian serius umat manusia sejak zaman dulu.
"Mengingat betapa pentingnya waktu (kala), tradisi-tradisi keagamaan di India juga seperti Hindu, Buddha, dan Jaina telah membicarakan waktu dengan cara pandangnya masing-masing seperti dapat dibaca di dalam kesusastraan-kesusastraanya. Teks Jyostisa, salah satu dari Wedangga dan Surya-Siddhanta, misalnya, membahas perhitungan waktu hubungannya ritual dan tata-surya," katanya.
Di dalam kesusastraan Weda, ada perkembangan pemikiran mengenai waktu dari waktu ke waktu sebagai bukti bahwa para rsi, acarya, filosof atau intelektual India terus mendalami waktu.
Menurutnya, pandangan Buddha yang mempercayai kesementaraan (temporariness) berbeda dari pandangan-pandangan Brahmanisme yang mempercayai keabsolutan (absolutism).
Di dalam kesusastraan Hindu yang diwarisi di Nusantara banyak ditemukan terminologi yang menggunakan kata “kala”, seperti byakala, sandikala, Bhatara Kala, Kala Rahu.
Di dalam terminologi Wariga, banyak dijumpai hari-hari yang berkaitan dengan kala tertentu, misalnya Kala Keciran, Kala Ngruda, Kala Gotongan, dan lainnya.
"Banyak cerita atau mitologi yang dikaitkan dengan waktu, misalnya di dalam teks Kala-tattwa, diceritakan barang siapa yang keluar rumah dan berjalan di jalan pas pada saat tengah siang hari, maka akan dimangsa oleh Bhatara Kala; dari sini muncul latar belakang upacara penyucian Wayang Sapuh Leger bagi anak lahir pada Wuku Wayang," katanya.
Ia juga memaparkan terkait mitologi gerhana matahari yang dikaitkan dengan Kala Rahu tidak kalah populernya di masyarakat.
Demikian pula di dalam Kakawin Sutamasoma, betapa Bhatara Kala haus ingin memangsa 100 raja dan kemunculan Sutasoma yang ingin menyelamatkan semua raja dan bersedia menjadi korban yang siap dimangsa.
Sejumlah naskah juga menggunakan kala sebagai judulnya.
Begitu juga konsep ini sudah masuk ke dalam ritual yadnya, upakara (banten), sistem kalender (wariga), pengobatan (usada), kesenian, dan lain-lain.
Dalam konteks Galungan dan Kuningan, perbendaharaan kata ‘Kala’, seperti Kala-Tiga terasa sangat terkait.
"Dengan demikian kata ini tidak lagi asing bagi umat Hindu, namun sering dipahami sebagai kata yang berkonotasi negatif, diasosiasikan dengan dunia gaib, wujud atau figur yang menakutkan atau mengerikan dan sering dikaitkan dengan kematian sehingga tidak menarik untuk dipelajari," katanya.
Begitu juga konsep “Desa-Kala-Patra” yang populer di kalangan masyarakat Hindu di Bali sesungguhnya adalah sebuah bentuk kesadaran akan ruang dan waktu.
Konsep ini dijadikan pedoman atau acuan seandainya ada perbedaan-perbedaan di dalam pelaksanaan yadnya atau tradisi keagamaan.
Secara umum Kala bermakna waktu yang tepat, kesempatan, keadaan, musim, dan waktu makan; akhir, kematian, waktu kematian, dan dewa kematian; dan makna ketiga diungkapkan dengan kata dista artinya sesuatu yang telah ditata atau diamanatkan.
"Banyak ada makna kata Kala, demikian juga perkembangan pemikiran mengenai waktu pada zaman Weda dan sesudahnya. Kajian atas sejumlah himne pada Weda, dan Upanisad memberi pandangan baru bahwa Waktu bisa terbatas (Kala) dan tak terbatas (Akala)," katanya.
Disamping sebagai pengarah atau penggerak, waktu juga bermakna akhir dan Dewa Kematian.
"Makna Dewa Kematian ini yang lebih populer di kalangan masyarakat sehingga aspek-aspek halus dari waktu kurang mendapat perhatian. Di dalam tradisi kitab-kitab Agama, Siwa diidentikkan dengan Kala, Mahakala, Kali, dan sebagainya. Sesuai dengan ajaran Siwa-Tattwa, Kala, Kali dan sebagainya merupakan wujud aspek dinamis, kekuatan (Sakti) dari Siwa yang lahir setelah Cetana (atau Siwa-Tattwa) bertemu dengan Acetana (Maya-Tattwa) sehingga bisa berfungsi sebagai pelebur (pemralina) dan Dewa atas Kematian," paparnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/rembug-sastra-purnama-badrawada-di-pura-jagatnatha-sabtu-22122018-malam.jpg)