Berita Banyuwangi
Telusuri Jejak Ayahnya, Emil Salim Datang ke Banyuwangi
Pakar ekonomi senior dan mantan menteri di era orde baru, Prof Emil Salim mengunjungi Banyuwangi
TRIBUN-BALI.COM, BANYUWANGI - Pakar ekonomi senior dan mantan menteri di era orde baru, Prof Emil Salim mengunjungi Banyuwangi.
Kedatangan Emil selama empat hari bersama keluarganya di Banyuwangi, untuk mengenang dan menelusuri jejak perjalanan hidup ayahnya sekaligus meluangkan waktu untuk berwisata.
Guru besar ekonomi Universitas Indonesia (UI) tersebut bercerita, ayahnya dulu pernah bertugas di Banyuwangi pada 1926.
Baay Salim, sang ayah, bekerja sebagai pegawai pekerjaan umum di Banyuwangi.
Kakak Emil Salim yang bernama Siti Chamsiah juga lahir di Banyuwangi pada 1928, sebelum kemudian ayahnya pindah tugas ke daerah lain.
"Bapak sering bercerita tentang Banyuwangi, tempat kerjanya dulu. Banyak pohon-pohon besar di tempatnya," kata keponakan pahlawan nasional Agus Salim mengenang cerita ayahnya.
Cerita tersebut mendorongnya untuk datang ke Banyuwangi.
Ia mencari tempat dimana ayahnya tersebut bekerja.
"Akhirnya sudah saya temukan. Tempatnya di Djawatan," ungkapnya.
Djawatan merupakan kawasan ditumbuhi pepohonan besar yang berusia sangat tua, mulai trembesi sampai jati.
Dulunya, kawasan tersebut merupakan bekas stasiun kereta api dan tempat pengumpulan kayu.
Namun, sejak 1960-an tempat tersebut tak lagi difungsikan sebagaimana mestinya.
Sekarang, tempat tersebut dikenal sebagai salah satu destinasi wisata.
Pohon-pohon besar yang ditumbuhi tanaman semacam lumut menjadikannya tempat yang eksotis.
Emil Salim juga berkeliling di berbagai tempat wisata di ujung timur Jawa itu.
Mulai Bangsring Underwater hingga pantai Pulau Merah.
Pada hari terakhir kunjungannya, ia menyempatkan bersilaturahim dengan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Rabu (26/12/2018).
Dalam kesempatan itu, Emil mengapresiasi kebijakan pembangunan di Banyuwangi.
"Saya kira kebijakan pembangunan yang ada di Banyuwangi ini telah berada di jalur yang benar," kata mantan Ketua Dewan Pertimbangan Presiden di era Susilo Bambang Yudhoyono tersebut.
Pembangunan yang dimaksud adalah partisipasi masyarakat dalam membangun pariwisata.
Di banyak tempat, pariwisata hanya dikuasai oleh kalangan investor dan pemilik modal besar.
Namun, di Banyuwangi, rakyat bisa didorong untuk terlibat.
"Di Pulau Merah yang pantainya bagus itu, misalnya. Jika diizinkan ada hotel, mungkin hotel bintang lima akan berebut, seperti halnya di Nusa Dua (Bali). Tapi, Bupati, tak memberikan izin. Justru, mendorong rakyat untuk membuat homestay. Ini menarik," jelas lulusan University of California itu.
“Artinya, sebenarnya kebijakan pariwisata yang berpadu dengan lingkungan dan masyarakat itu bisa dilakukan, seperti di Banyuwangi ini,” tambah Emil. (haorrahman)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pakar-ekonomi-senior-dan-mantan-menteri-di-era-orde-baru-prof-emil-salim.jpg)