Serba Serbi

Tak Boleh Memancing Saat Istri Hamil, Apa Artinya? Begini Penjelasan PHDI Bali

Saat seorang istri sedang hamil, ada beberapa pantangan yang tak boleh dilakukan.

Tak Boleh Memancing Saat Istri Hamil, Apa Artinya? Begini Penjelasan PHDI Bali
Tribun Bali/Irma Budiarti
(Ilustrasi) LONTAR USADA - Salah satu lontar usada yang ada di Pusat Kajian Lontar Universitas Udayana. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Saat seorang istri sedang hamil, ada beberapa pantangan yang tak boleh dilakukan.

Wakil Ketua PHDI Provinsi Bali, Pinandita I Ketut Pasek Swastika mengungkapkan dalam Lontar Eka Pertama dan Lontar Ngembat Wwang Beling dijelaskan, ada beberapa pantangan yang wajib di penuhi oleh ayah ketika istrinya tengah mengandung.

Pantangan tersebut yaitu tidak boleh mencukur rambut, tidak membangun rumah, tidak merakit peralatan kayu, menggulung mayat, menikahi wanita lain (memadu) dan menengok kematian yang diakibatkan salah pati.

Selain itu ada juga larangan memasang pagar, membuat telaga, menggulung mayat.

"Itu pantangan untuk suami. Sedangkan bagi istri yang sedang hamil tidak boleh menyaksikan pernikahan, menengok orang meninggal menyembah orang meninggal, dan menjual binatang peliharaan," katanya.

Menurutnya yang paling penting dari semua pantangan tersebut adalah pola pikir yang dilatih agar selalu menjadi positif.

Semua pantangan itu bisa diibaratkan sebagai latihan untuk pikiran.

Juga bersifat proteksi agar tanpa disadari pikiran menghasilkan energi lain yang positif.

Selain itu ada juga pantangan tak boleh menanam turus, dan tidak boleh memancing.

"Tidak boleh tanam tirus memiki maksud agar suami tidak berselingkuh atau berhubungan badan dengan yang bukan pasangan selain dengan istri tercinta," paparnya.

Sedangkan larangan memancing, dimaksudnya agar seorang suami tidak melakukan Himsa Karma atau kegiatan membunuh makhluk lain.

"Kalau mancing katanya anak yang lahir akan berbibir sumbing, padahal tidak begitu," katanya.

Ia pun menegaskan bahwa pelaksanaan semua pantangan ini kembali lagi ke personal masing-masing.

Apabila baik, hal ini bisa diterapkan, akan tetapi jika tidak memungkinkan lebih baik tidak melakukannya. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved