Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

5 Harta Karun Perang Dunia II yang Masih Hilang, Ada yang Dianggap Keajaiban Dunia

Sepanjang Perang Dunia II, Jerman diyakini banyak menjarah benda-benda berharga dari negara-negara yang didudukinya.

Kompas.com
Kamar Amber yang hilang (Mirror) 

Hitler tidak terlalu setuju dengan rencana pebangunan Benteng Alpen itu dan pembangunannya tak menjadi perhatian serius.

Namun, di akhir perang, sejumlah laporan intelijen yang diterima markas besar Sekutu menyebut para perwira Nazi dievakuassi ke sebuah kawasan perbentengan di selatan Jerman.

Menteri Propaganda Nazi Joseph Goebbels lalu menyebarkan rumor soal perbentengan di Alpen di berbagai termpat.

Hal ini dilakukan agar membuat Sekutu kebingungan tentang masalah di dlam pemerintahan Nazi Jerman.

Benteng Alpen ini konon dilengkapi pasokan logistik, persenjataan, dan anggota Nazi garis keras.

Puluhan tahun usai perang, rumor soal benteng Alpen sebagai salah satu harta karun Hitler masih terdengar.

Diyakini, Hitler menyimpan harta karun bernilai jutaan dolar di benteng itu untuk mendanai operasi komando untuk mengacaukan Sekutu di seluruh Jerman.

Rumor ini membuat kawasan pegunungan di wilayah selatan Jerman menjadi tujuan para pemburu harta karun.

4. Emas Yamashita

Seperti halnya kereta emas Nazi, legenda emas Yamashita menjadi salah satu misteri sejarah.

Fakta sejarah menuliskan, Jepang menduduki Asia di masa Perang Dunia II, menghancurkan banyak kota dan menjarah benda berharga.

Menurut sejumlah sejarawan, Kaisar Jepang membentuk sebuah unit khusus bernama Kin no Yuri yang artinya "Bunga Lili Emas" untuk melakukan penjarahan di Asia.

Disebutkan, berdasarkan perintah Jenderal Tomoyuki Yamashita, hasil jarahan itu kemudian disimpan di sejumlah terowongan bawah tanah di Filipina.

Setelah perang usai, legenda ini memicu warga Filipina dan asing melakukan pencarian.

Namun, sejauh ini belum ada yang berhasil. Pada 1988, emas Yamashita menjadi pusat kasus hukum antara pemburu harta karuan Rogelio Roxas dan Presiden Filipina Ferdinand Marcos.

Sumber: Kompas.com
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved