Dharma Wacana
Dimensi Beragama dan Ujaran 'Memperjuangkan Tuhan'
Saya selalu bertanya-tanya, untuk apa kita memperjuangkan Tuhan. Karena Tuhan adalah sebuah entitas yang tidak perlu diperjuangkan.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Eviera Paramita Sandi
TRIBUN-BALI.COM - Ikut campurnya agama ke ranah politik mengakibatkan politik Indonesia menjadi politik kriminal atau politik salah-benar.
Kondisi ini mengakibatkan, wajah agama yang seharusnya manis, justru menjadi beringas.
Terlebih lagi, maraknya ujaran ‘memperjuangkan Tuhan’.
Apa yang mendasari agama justru menjadi pengacau dalam ranah politik?
Beragama adalah sebuah jalan menuju Tuhan.
Mengapa ada istilah itu, karena dalam keyakinan apapun, semua meyakini yang ada ini berasal dari-Nya.
Karena berasal dari-Nya, maka kita harus kembali kepada-Nya.
Ketika kembali pada-Nya, manusia akan dipengaruhi oleh dimensi psikologis.
Nah, pementaan psikis ini bermacam-macam jenis.
Karena itu, jangankan penganut agama yang berbeda.
Bahkan sesama pemeluk agama yang sama pun, cara kembali pada-Nya berbeda.
Akibatnya, lahirlah wajah agama yang berbeda, padahal keyakinannya sama.
Dalam hal ini, ada dimensi ritualistik, semuanya dilakukan dengan cara ritual karena dia mengepentingkan audiovisual.
Yakni menjadikan dirinya berada di alam Tuhan.
Orang yang seperti ini, akan mempertanyakan orang-orang yang melakukan ritual besar, karena dia merasa berada di lingkungan Tuhan, maka ritual kecilpun sudah cukup.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/sunrise_20160913_193935.jpg)