Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Film Kisah Pembuat Pembalut di India Menang Piala Oscar

Film tentang kehidupan seorang remaja di sebuah desa di India yang bekerja membuat pembalut berhasil memenangkan penghargaan Oscar

Tayang:
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Ady Sucipto
Capture Youtube
film Period. End of Sentence, film dokumenter yang menjadi pemenang Piala Oscar. 

TRIBUN-BALI.COM, LOS ANGELES - Film tentang kehidupan seorang remaja di sebuah desa di India yang bekerja membuat pembalut berhasil memenangkan penghargaan Oscar sebagai Film Dokumenter Pendek Terbaik.

Sebagaimana yang diceritakan Geeta Pandey dari BBC yang sempat menemui mereka di desa tersebut sebelum malam penghargaan Oscar berlangsung.

Sneh berusia 15 tahun ketika dia pertama kali mengalami menstruasi. Ketika hari pertama mengalaminya, dia sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi.

“Aku sangat ketakutan. Aku kira aku mengalami sakit yang serius, akupun langsung menangis,” ucah Sneh di Desa Kathikhera, yang jaraknya tak jauh dari Delhi.

“Aku tidak berani mengatakannya pada Ibu, jadi aku bilang ke bibi. Bibi bilang kalau saya sekarang sudah besar, jadi tidak perlu menangis, itu normal. Akhirnya bibi yang bilang ke Ibu.”

Sneh, kini berusia 22 tahun, berawal dari titik itu, dia telah melalui banyak hal. Dia bekerja di sebuah pabrik kecil di desanya yang memproduksi pembalut, menjadi protagonis dalam film Period. End of Sentence, film dokumenter yang menjadi pemenang Oscar dan dia hadir dalam penghargaan pada Minggu, 24 Februari 2019 di Los Angeles.

Film ini berawal dari gerakan sejumlah murid di Utara Hollywood yang melakukan crowdfunding untuk membantu mengirimkan mesin pembuat pembalut dan pembuat film berdarah Iran-Amerika, Rayka Zehtabchi - ke desa tempat Sneh tinggal.

Berjarak 115 km (71 mil) dari Delhi, Desa Kathikhera di distrik Hapur, jauh dari gemerlap mall dan kemajuan ibukota India.

Biasanya perlu waktu 2,5 jam berkendara dari Delhi, hanya saja karena ada perbaikan jalan, kini memerlukan waktu hingga 4 jam.

Perjalanan 7,5 km menuju desa itu dari Kota Hapur sangatlah lambat, jalanan sempit dan saluran air terbuka di sisi kanan-kiri.

Film dokumenter ini diambil di peternakan dan persawahan, juga di ruang kelas di Kathikhera. Sebagaimana umumnya di India, membicarakan menstruasi adalah hal yang tabu.

Perempuan yang sedang menstruasi dianggap tidak suci dan tidak diijinkan untuk masuk ke tempat suci, bahkan seringkali tidak diikutsertakan dalam acara-acara sosial.

Adanya stigma itu membuat tidak mengherankan apabila Sneh sebelumnya tidak pernah mendengar tentang menstruasi sebelum dia sendiri yang merasakannya.

“Topik ini tidak banyak didiskusikan, - bahkan di antara perempuan,” katanya.

Tapi semuanya berubah ketika Action India, gerakan yang fokus pada isu reproduksi kesehatan, membuat unit pabrik pembalut di Kathikhera.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved