Dua Antropolog Bahas Munculnya Identitas Bali pada Era Kolonial pada Acara Timbang Pandang di BBB

Dua antropolog asal Prancis, Michel Picard dan Jean Couteau, membahas perihal munculnya identitas Bali semasa era kolonial, berikut transformasinya

Dua Antropolog Bahas Munculnya Identitas Bali pada Era Kolonial pada Acara Timbang Pandang di BBB
Bentara Budaya Bali
Michel Picard dan Jean Couteau, membahas perihal munculnya identitas Bali semasa era kolonial, berikut transformasinya kini. Acara timbang pandang tersebut berlangsung pada Jumat (22/03/2019) di Bentara Budaya Bali (BBB), Jl. Prof. Ida Bagus Mantra No.88A, bypass Ketewel, Sukawati, Gianyar. 

Mengemukanya pergulatan intelektual dan upaya pengindentifikasian diri sebagai orang Bali tecermin pada empat majalah yang diterbitkan di Bali selama era kolonial: Bali Adnjana (1924-1930), Surya Kanta (1925-1927 ), Bhawanagara (1931-1935), dan Djatajoe (1936-1941).

“Tujuan dari Surya Kanta adalah memberi posisi pada kaum jaba yang ingin mengakhiri dominasi gaya Barat dan mereka merasa hambatan mereka adalah keistimewaan yang diperoleh kaum Tri Wangsa. Hal ini memiliki tujuan yang berbeda dengan Bali Adnjana.

"Namun terlepas dari pertentangan kedua media ini, di Bali Adnjana dan Surya Kanta inilah orang-orang Bali pertama kali mendeklarasikan diri sebagai sebuah masyarakat, society, people, yaitu kaum Bali sendiri, karena awalnya mereka hanya dilihat berdasarkan etnis atau apa yang didefinisikan oleh penjajah Belanda,” terang Michel Picard.

Lebih lanjut, media Surya Kanta dan Bali Adnjana mulanya dipublikasikan dalam bahasa Melayu. Hal mana ini juga menimbulkan krisis identitas bagi orang-orang Bali terdidik kala itu.

Sementara itu, Jean Couteau, penulis yang telah puluhan tahun bermukim di Bali, lebih banyak mengungkapkan perihal identitas orang Bali kontemporer atau saat ini.

Baca: Cok Rat Ungkap Sejarah Puri Agung Bersama Leluhur Rai Mantra Melawan Kolonial, Gus Rai: Merinding

Baca: Jokowi: Tinggalkan Warisan Kolonialisme, Kita Bangsa Petarung yang Berani Berjuang!

Adapun program timbang pandang ini digelar serangkaian perayaan Hari Frankofoni Internasional atau la journée de la francophonie, yakni perayaan bagi para penutur Bahasa Prancis di seluruh dunia, yang diperingati setiap tanggal 20 Maret.

Buah kerja sama Institut Français d’Indonésie (IFI) dan Alliance française Bali dengan Bentara Budaya Bali.

Pekan Frankofoni menjadi pertemuan budaya dalam berbagai bentuk, seperti pertunjukan seni, pemutaran film, diskusi, kuliner serta pameran.

Tercatat bahwa bahasa Prancis telah menjadi bahasa pengantar di dunia yang dipakai oleh 220 juta orang yang tersebar di lima benua.

Baca: Insiden Penembakan di Utrecht Belanda Tewaskan 3 Orang, Polisi Rilis Foto Terduga Pelaku Ini

Bahasa Prancis juga menjadi bahasa resmi di berbagai organisasi internasional seperti PBB dan Uni Eropa, serta lembaga-lembaga nirlaba antara lain Palang Merah Internasional dan Amnesti Internasional.

Di Asia Tenggara, bahasa Prancis diajarkan di sekolah-sekolah dasar maupun menengah, Alliance Française dan institusi Prancis lainnya.

Turut memaknai perayaan Hari Frankofoni Internasional di Bali, ditampilkan pembacaan dan dramatisasi puisi oleh Teater Kalangan, pemutaran film pendek Prancis adaptasi puisi Apollinaire, serta persembahan musik Prancis DJ Soundsekerta.(*)

Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved