Beberapa Bencana Kerap Berulang, BNPB Harap Semua Elemen Siap Hadapi Bencana
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendorong gerakan seluruh elemen masyarakat untuk siap menghadapi bencana
Penulis: Wema Satya Dinata | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendorong gerakan seluruh elemen masyarakat mulai dari individu, keluarga maupun komunitas untuk siap menghadapi bencana.
Langkah ini dimulai sejak 2017 lalu dengan penyelenggaraan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) yang jatuh setiap tanggal 26 April.
Berdasarkan data BNPB tercatat sepanjang tahun 2018, telah terjadi bencana sebanyak 2.572 kali, serta mengakibatkan korban meninggal dan hilang mencapai 4.814 jiwa, luka-luka 21.064, mengungsi 10,2 juta, serta kerugian mencapai lebih dari Rp 100 triliun, baik kerugian material maupun lainnya.
Maka dari itu, Kepala BNPB Doni Monardo mengatakan HKB bukanlah seremoni tetapi upaya konkret untuk mengubah perilaku untuk membangun kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana mulai dari diri, keluarga dan komunitas.
Menurut Doni, HKB wajib mengedepankan aksi nyata seperti pemeriksaan keberadaan dan keberfungsian kelengkapan sarana dan prasarana keselamatan, seperti adanya rambu dan jalur evakuasi yang aman serta titik kumpul, tersedianya alat pemadam api, manajemen keselamatan bangunan-bangunan bertingkat, dan sebagainya.
Baca: Prihatin Situs Kuno Terus Dibongkar, Yayasan BPJ Gugah Kesadaran Lewat Pameran Situs & Ritus
Baca: Bawaslu Laporkan Kasus Perusakan Surat Suara di TPS 29 ke SPKT Polres Tabanan
"Juga melatih evakuasi dengan tenang dan tidak panik merupakan kunci keberhasilan dalam menghadapi ancaman bencana," kata Doni dalam latihan HKB yang berlangsung di Sesko TNI AU, Lembang, Jawa Barat, Jumat (26/4/2019).
HKB merupakan kesempatan berharga yang melibatkan semua pihak untuk melakukan latihan menghadapi bencana.
Upaya tersebut juga bisa diawali dengan langkah yang sangat sederhana dalam lingkup keluarga, misalnya mengidentifikasi lingkungan sekitar terhadap ancaman bahaya atau memperkirakan akses evakuasi dilihat dari sekat di dalam rumah.
Melalui latihan, BNPB mengharapkan masyarakat dapat mengasah naluri untuk dapat bertahan hidup.
Hal tersebut diusung pada HKB dengan slogan 'Siap untuk Selamat.'
Latihan tersebut harus dimulai dari diri sendiri, keluarga dan komunitas.
Menurut Doni, pendidikan paling dini wajib dilakukan mulai dari rumah.
Untuk itu peran ibu dan perempuan menjadi sangat penting.
Baca: Bencana Tanah Bergerak, BPBD Sukabumi Imbau Waspada dan Siap Siaga Bila Hujan Deras
Baca: Siapkan Mental Anak PAUD Hadapi Gempa, Disdikpora Akan Gelar Simulasi Siaga Bencana
"Selain pentingnya pendidikan dini, perempuan dan ibu dipilih karena memiliki sifat melindungi, aktif dalam kelompok sosial dan komunitas dan juga merupakan sosok pembelajar," ujarnya.
Selama ini perempuan termasuk salah satu kelompok yang paling banyak menjadi korban bencana karena kurang pemahamannya akan risiko dan besarnya keinginan mereka untuk menolong keluarganya, namun belum memiliki kapasitas yang memadai.
Selanjutnya, BNPB berharap setiap fasilitas yang dimiliki atau dikelola oleh pemerintah ataupun swasta untuk melaksanakan latihan atau simulasi bencana di lingkungan mereka masing-masing.
HKB tahun ini diikuti oleh berbagai pihak di seluruh Indonesia dengan pelibatan berbagai pihak, mulai dari kementerian/lembaga, TNI, Polri, dunia usaha, perguruan tinggi hingga masyarakat.
Tercatat dalam situs BNPB sejumlah 53.086.119 partisipan berkomitmen untuk berpartisipasi dalam HKB 2019.
Di sisi lain, lanjut Doni, catatan dari para pakar menyebutkan beberapa bencana di Indonesia kerap berulang.
Baca: Wagub Bali Ajak Relawan Beri Edukasi Kebencanaan ke Masyarakat
Baca: Desa Tumbu Ditetapkan Sebagai Desa Tangguh Bencana, BPBD Edukasi Tentang Kebencanaan
"Ada yang lima tahunan, 10 tahunan, 100 tahunan, dan ribuan tahun. Longsor dan banjir kerap berulang setiap tahun. Gempa di Aceh berulang tiap dua ribu tahunan, di Padang berulang setiap seratus tahun, dan di Palu puluhan tahun," ungkapnya.
BNPB bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan HKB bertempat di Lembang.
Terkait dipilihnya wilayah Lembang sebagai tempat latihan, karena berdasarkan hasil kajian Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menunjukkan bahwa wilayah ini teridentifikasi Sesar Lembang yang berpotensi memicu gempa dengan magnitudo maksimum M6.8 SR.
Baca: Terkait Bencana Gempa dan Tsunami, Made Indra Sebut Respons Cepat Masyarakat Harus Dibangun
Beberapa rangkaian kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka memperingati HKB nasional meliputi ikrar sukarelawan, pengukuhan forum PRB Jawa Barat dan Pembina Pramuka Siaga Bencana, geladi ruang, penanaman pohon dan rambu bencana, geladi lapang, penandatanganan nota kerja sama, peluncuran produk kesiapsiagaan, dan fieldtrip menuju Tebing Keraton.
Lebih dari 2.000 orang terlibat dalam penyelenggaraan HKB di Lembang yang digelar sejak 22 hingga 26 April 2019. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/peringatan-hari-kesiapsiagaan-bencana-2019-yang-dipusatkan-di-lembang-jawa-barat.jpg)