Dharma Wacana
Ancaman Tradisi dan Budaya Bali
Bahkan, tak jarang ekonomi yang berlandaskan tradisi dan budaya justru mematikan tradisi dan budaya itu sendiri.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Saat ini umat Hindu di Bali dihadapi pada dua pilihan dilematis.
Di satu sisi mempertahankan tradisi dan budaya.
Namun di sisi lain juga harus memenuhi kebutuhan ekonominya.
Dua hal yang berbeda ini, biasanya tidak berjalan beriringan.
Bahkan, tak jarang ekonomi yang berlandaskan tradisi dan budaya justru mematikan tradisi dan budaya itu sendiri.
Keunikan alam, tradisi dan budaya Bali mengundang pemilik modal untuk berinvestasi di Bali.
Mereka membeli tanah untuk membuka usaha, baik itu hotel, vila dan sebagainya.
Para pemodal tentu mengiming-imingi masyarakat dengan uang jual beli yang besar.
Di satu sisi, masyarakat kita yang cenderung disibukkan aktivitas adat, ingin memiliki uang banyak.
Akibatnya, mereka pun menjual tanah yang dilirik investor.
Bila tanah tersebut tidak berkaitan dengan tradisi dan budaya, tentu tidak masalah.
Namun selama ini, sering terjadi, tanah yang dijual tersebut merupakan akses umat dalam menuju pura, akses ngiring sesuhunan dan sebagainya.
Jika krama menuntut, tentu tidak bisa.
Sebab mereka tak memiliki hak untuk protes.
Nah di sinilah kenapa sering ada wacana, orang yang hidup dari pariwisata Bali justru membunuh tradisi dan budaya Bali.