Penasaran Gempa dan Tsunami Palu, Peneliti Dunia Rekonstruksi Kejadian Berbasis Medsos
Citizen science yang dimaksud oleh Haase adalah data penelitian yang diambil langsung dari warga sekitar yang menyaksikan.
Penasaran Gempa dan Tsunami Palu, Peneliti Dunia Berbasis Medsos, Seberapa Akurat?
TRIBUN-BALI.COM - Tsunami yang menerjang Palu akibat gempa bumi di Donggala telah 8 bulan berlalu.
Meski begitu, masih banyak peneliti dunia yang penasaran dengan tsunami tak biasa tersebut.
Satu di antara peneliti yang masih sangat penasaran dengan tsunami Palu adalah Jennifer Haase, ahli geofisika dari Scripps Institution of Oceanography di La Jolla, California.
Berbeda dengan penelitian lain, Haase justru menggunakan metode yang tidak konvensional.
"Ini adalah contoh penting dari citizen science," tegas Haase,
Citizen science yang dimaksud oleh Haase adalah data penelitian yang diambil langsung dari warga sekitar yang menyaksikan.
Baca: Aa Gym Tulis Kabar Terbaru Kondisi Ustadz Arifin, Cobaan Berat, Beliau di ICU Rumah Sakit Penang
Baca: Persib Bandung Akhirnya Lepas Fabiano Beltrame ke Liga 2, Ini Penyebabnya
Dalam hal ini, Haase mengambil data sosial media warga.
Metode ini dianggap tidak konvensional karena menggunakan sosial media sebagai sumber data.
Padahal, masalah utama data semacam ini adalah validitasnya.
Alasan Metode Tak Biasa Keputusan penggunaan metode tak biasa ini tidak diambil Haase begitu saja.
Ada berbagai macam alasan yang membuatnya memilih metode tersebut sebagai bahan penelitian.
Satu di antara alasannya adalah data primer yang memadai untuk studi.
Ini karena Indonesia tidak memiliki banyak alat pengukur pasang surut yang bisa mengumpulkan data dari Tsunami Palu September silam.
Selain itu, kesulitan untuk mengakses lokasi bencana juga menjadi alasannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/gempa-palu_20181017_143224.jpg)