Mengenal Sejarah & Makna Tradisi Lebaran Ketupat Bagi Orang Jawa

Simbol permohonan maaf itu dilakukan dengan membawa ketupat sebagai simbol memaafkan dan mengikhlaskan.

Mengenal Sejarah & Makna Tradisi Lebaran Ketupat Bagi Orang Jawa
net
Ilustrasi 

TRIBUN-BALI.COM - Hari ketujuh setelah Idul Fitri, orang Jawa biasanya mengenal tradisi Lebaran Ketupat.

Ketupat biasanya disajikan dengan dipadukan bersama makanan lain, seperti sayur lodeh, opor dan sambal goreng kentang.

Dilansir dari Tribun Jateng artikel 'Makna Lebaran Ketupat Bagi Orang Jawa', secara filosofi dalam bahasa Jawa, kata 'ketupat' atau 'kupat' artinya 'mengaku lepat' (mengakui kesalahan) dan 'laku papat' (empat tindakan).

Prosesi ini identik dengan acara sungkeman anak ke orang tua, yang menandakan permohonan maaf anak dan bukti bahwa anak menghormati orang tua.

Permohonan maaf juga diajukan kepada kerabat serta tetangga. 

Simbol permohonan maaf itu dilakukan dengan membawa ketupat sebagai simbol memaafkan dan mengikhlaskan.

Oleh karenanya, jika berkunjung ke rumah keluarga, kerabat, dan tetangga dengan membawa ketupat diharapkan permohonan maaf dapat diterima.

Dilansir dari Kompas.com artikel 'Makna di Balik Ketupat yang Berbentuk Persegi Empat', menurut sejarawan dari Universitas Padjajaran Bandung, Fadly Rahman, bentuk ketupat yang persegi empat berkaitan dengan bahasa Austronesia.

"Kupat kalau dalam bahasa Austronesia turunan dari kata 'epat' yang artinya empat. Kalau kita melihat ketupat, bentuknya persegi dan memiliki empat sudut," kata Fadly.

Jika diamati dengan seksama, bentuk ketupat memang persegi panjang meski telah mengalami berbagai modifikasi.

Halaman
1234
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved