Coret Siswa Bertato dan Bertindik, PPDB SMKN 1 Denpasar Wajibkan Peserta Tak Buta Warna

SMKN 1 Denpasar mensyaratkan adanya tes fisik bagi siswa dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2019

Coret Siswa Bertato dan Bertindik, PPDB SMKN 1 Denpasar Wajibkan Peserta Tak Buta Warna
Tribun Bali/Wema Satya Dinata
Suasana Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) jalur zonasi di SMKN 1 Denpasar, pada Jumat (28/6/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - SMKN 1 Denpasar mensyaratkan adanya tes fisik bagi siswa dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2019.

Jika di tubuh pendaftar terbukti ada tato maupun tindik otomatis langsung didiskualifikasi atau dicoret.

Kepala SMKN 1 Denpasar, I Ketut Suparsa menjelaskan adanya persyaratan khusus bagi pendaftar tidak boleh bertato dan bertindik, dengan alasan kedepan bila siswa mendapat kesempatan yang baik berupa beasiswa atau bekerja di tempat yang baik pasti ditolak, jika dalam tubuhnya terdapat tato atau tindik.

Selain pelarangan tersebut, khusus untuk bidang teknik ada persyaratan lainnya, yakni terdapat aturan wajib tidak mengalami buta warna.

“Misalnya elektronika. Kita tahu kabel-kabel itu jumlahnya ratusan. Warnanya tipis-tipis, kalau itu buta warna tidak bisa lihat. Teknik hampir semua (wajib tidak buta warna),” terang Suparsa saat ditemui Jumat (29/6/2019).

Pada PPDB tahun ini, SMKN 1 Denpasar menerima siswa sebanyak 22 kelas atau 792 siswa. Dari jumlah tersebut terbagi dalam 11 kompetensi yang diajarkan oleh 190 orang guru.

Ia menyampaikan permasalahan di SMKN 1 Denpasar adalah keterbatasan sumber daya guru, khususnya pada kompetensi teknik listrik, padahal animo masyarakat yang ingin masuk pada jurusan tersebut sangat tinggi dan kebutuhannya juga banyak.

Selain itu, yang menjadi jurusan favorit lainnya adalah bidang Teknologi Informasi (TI), teknik otomotif, dan teknik bangunan. Sedangkan yang kurang peminat adalah jurusan mesin, teknik pendingin dan audio video.

“Semua tahu Teknik pendingin bagus, tapi siapa mau masuk. Masyarakat harus diedukasi. Kita sudah ke SMP-SMP. Biasanya mereka mebriuk siu (kemana temannya, mereka ikut),” ujarnya.

Sambungnya, sama halnya dengan  konstruksi batu dan beton. Siswa berpikiran akan  menjadi tukang dan buruh, sehingga dikawatirkan pendapatannya nanti minor.

“Padahal sebenarnya nanti dia bisa menghitung bahan dan jadwal kapan pekerjaan selesai, dan bisa menjadi pemborong,” tutur Suparsa. 

Libatkan OSIS untuk Penerimaan Siswa
Proses PPDB di SMKN 1 Denpasar dibantu oleh OSIS, namun tetap didampingi oleh para guru yang juga panitia PPDB. Untuk input data, panitia menggunakan 8 operator.

Ketua panitia PPDB sekaligus Wakasek Kurikulum SMKN 5, Subaryana mengatakan OSIS juga dilibatkan dalam PPDB.

“Tapi tetap ada pendampingan dari guru. Kalau ada permasalahan, pendaftar bisa masuk ke dalam ruangan dan berkonsultasi dengan guru-gurunya,” kata dia.

Di SMKN 5 Denpasar kuota pendaftaran berjumlah 20 kelas atau 720 siswa, dengan kompetensi keahlian berjumlah 5 bidang yakni seni karawitan, seni tari, jasa boga, usaha perjalanan wisata dan akomodasi perhotelan. (*) 

Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved