Breaking News:

Wayan Widyawan Terpaksa Mandi Air Hangat Karena Dinginnya Udara di Bali, Hari Ini Capai 19 Derajat

Tak hanya Wayan Widyawan, sebagian besar masyarakat Bali pasti merasakan akhir-akhir ini suhu udara lebih dingin dari biasanya.

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana | Editor: Eviera Paramita Sandi
Via Kompas.com
Ilustrasi kedinginan 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Wayan Widyawan kini setiap hari terpaksa mandi dengan air hangat sebelum berangkat bekerja pukul 06.00 WITA. 

Pria yang tinggal di daerah Jimbaran ini mengaku tak kuat dengan dinginnya udara di Bali akhir-akhir ini. 

Apalagi setiap hari dari pagi hingga petang ia bekerja di daerah Gianyar

Jarak yang cukup jauh tentu membuatnya menggigil sepanjang perjalanan. 

"Dinginnya seperti es, air di rumah sangat dingin terpaksa saya memasak air panas untuk mandi," ujarnya. 

Tak hanya Wayan Widyawan, sebagian besar masyarakat Bali pasti merasakan akhir-akhir ini suhu udara lebih dingin dari biasanya.

Hari ini, Selasa (2/7/2019) suhu di Bali diperkirakan menyentuh angka titik terendah di 19 derajat Celcius.

Kondisi ini, diprediksi oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Dimana suhu tersebut dirasakan di Kota Negara dan Bangli.

Titik suhu tertinggi diperkirakan hanya di angka 29 derajat Celcius.

Beranjak naik sedikit di kisaran 21 sampai 29 derajat Celcius dirasakan di Kota Tabanan dan Mengwi.

Suhu antara 22 hingga 30 derajat Celcius terjadi di beberapa kota seperti Amlapura, Gianyar, Semarapura dan Singaraja.

Kondisi tertinggi berada di Kota Denpasar yang antara 21 hingga 31 derajat Celcius.

Namun tentunya ini tidak terlalu tinggi, karena biasanya suhu Denpasar bisa menembus 34 derajat Celcius.

Prakirawan Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, Wayan Wirata mengatakan hal tersebut terjadi karena efek Monsoon Australia.

Efek Monsoon Australia tersebut membawa sedikit uap air dan dingin.

Ditambah lagi sekarang, kata dia, posisi matahari berada di utara equator sehingga di daerah selatan tidak maksimal mendapat sinar matahari.

Bumi biasanya menyerap panas pada siang hari ditambah sedikit tutupan awan, sehingga pada malam hari bumipun lebih cepat melepaskan panas ke atmosfer.

"Kurang lebih seperti itu," celetuknya saat dihubungi Tribun Bali, Senin (1/7/2019) malam.

Dirinya pun mengimbau kepada masyarakat agar perlu khawatir mengenai kondisi ini, karena berbicara masalah suhu dingin di peralihan dari musim hujan ke kemarau tergolong wajar dan terjadi setiap tahun.

Dirinya menambahkan, berdasarkan pantauan empat stasiun BMKG di Bali hingga saat ini suhu tercatat paling rendah berada di 17 derajat Celsius di stasiun Klimatologi Jembrana.

Lalu kapan fenomena ini akan berakhir?

Wirata mengatakan, biasanya kondisi ini berakhir pada puncak musim kemarau di bulan Agustus mendatang. (*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved