Berharap Tak Banyak Mesin EDC di Kasir, Joger dan Level 21 Mall Dukung GNNT
Junior Chief Executive Officer Joger Armand Setiawan mengusulkan kepada Bank Indonesia (BI) dan perbankan di Bali agar tak terlalu banyak mesin EDC
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Irma Budiarti
Berharap Tak Banyak Mesin EDC di Kasir, Joger dan Level 21 Mall Dukung GNNT
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Junior Chief Executive Officer Joger Armand Setiawan mengusulkan kepada Bank Indonesia (BI) dan perbankan di Bali agar tak terlalu banyak mesin EDC. Sehingga transaksi non-tunai di gerai Joger lebih mudah dan cepat.
Armand menegaskan sangat mendukung transaksi non tunai ini untuk menciptakan gerakan nasional non tunai (GNNT).
“Dengan non tunai ini, peredaran uang tunai tidak terlalu banyak. Dan orang melakukan transaksi pembayaran lebih mudah,” katanya di Denpasar, Rabu (10/7/2019).
Masalahnya, kata dia, setiap bank maunya transaksi kartu dimasukkan ke rekeningnya dan ada biaya.
“Kami memberikan pelayanan susah jadinya. Apalagi harga kami mepet marginnya, kalau terkena biaya ini itu kasihan konsumen. Kami intinya tidak mau membebankan pelanggan,” tegasnya.
Namun dengan adanya gerbang pembayaran nasional (GPN), sangat memudahkan karena kartu bisa digunakan di mesin EDC mana saja berlogo GPN di Indonesia.
“Ya kalau mesin EDC belum bisa jadi satu, setidaknya jangan sampai banyak sekali berjajar di atas meja kasir. Kayak ada kelompok bank BUMN dan swasta,” katanya.
Baca: Ada Program Khusus Servis Jelang Galungan, New Carry Pick Up Kuasai 55,2% Pangsa Pasar di Indonesia
Baca: Koster Apresiasi Kinerja Polda Bali, Peringatan HUT Bhayangkara ke-73
Walau demikian, transaksi non tunai di Joger makin lama makin banyak. Perbandingannya saat ini 60 persen tunai dan 40 persen non tunai. Transaksi non tunai berlaku di gerai Joger baik Kuta maupun Luwus.
“Selain kartu debit dan kredit, kami juga menerima uang elektronik dari semua bank,” katanya.
General Manager Level 21 Denpasar, Zenzen Guisi Halmis, mengatakan di Level 21 Mall hampir 100 persen bisa menggunakan non tunai.
“Sekarang akan kami terapkan lagi, khusus untuk perparkiran. Kalau tidak ada halangan semoga semester dua ini kami akan jalan dengan program non tunai tersebut,” katanya.
Namun untuk memudahkan itu, pasti ada beberapa operasional teknis yang disiapkan. Pihaknya akan kerja sama dengan e-Money Bank Mandiri.
Untuk transaksi non-tunai di parkir Level 21 ini, rencananya akan direalisasikan per bulan depan atau akhir Juli 2019.
“Jadi untuk memudahkan konsumen. Di tenant sudah hampir 100 persen bisa menggunakan debit, kredit, ataupun uang elektronik. Tapi yang harus dibantu adalah UMKM, karena itu kan bisnisnya kecil dan mendapatkan pendapatan per hari jadi UMKM harus dibantu untuk transaksi non tunainya,” katanya.
Baca: Rey Utami dan Pablo Benua Jadi Tersangka Kasus Video Asusila Soal Ikan Asin
Baca: Polisi Tangkap Stoykov saat Keluar dari ATM, Pasang Skimming di Mandiri Seminyak
Di Level 21 ada banyak UMKM baru. Dari jumlah itu ada yang eksibisi atau casual dan booth makanan cepat saji serta sebagainya.
Belum Semua Mall
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Teguh Setiadi, mengatakan, belum semua mall menerapkan GNNT, baru mall yang besar.
"Tapi tadi ada mall yang akan menegur tenant atau merchant yang menolak pembayaran non tunai. Kami terus edukasi baik pemerintah daerah dan pelaku industri,” katanya.
Hasil dari pertemuan ini diharapkan transaksi non tunai lebih meningkat dan membudaya di masyarakat.
Nominal Transaksi APMK Rp 10,76 Triliun
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Teguh Setiadi, menjelaskan per Mei 2019, data alat pembayaran menggunakan kartu (APMK) telah mencapai 2,9 juta lebih unit kartu yang didominasi kartu debit.
Rinciannya, kartu ATM lebih dari 317 ribu, kartu debit 2,3 juta lebih, dan kartu kredit 361 ribu lebih.
Baca: Galih Ginanjar Jadi Tersangka Kasus Video Asusila Bau Ikan Asin, Barbie Kumalasari Juga Diperiksa
Baca: Pasokan Cabai Berkurang Jelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, Ini Penyebabnya
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan sebelumnya. Nominal transaksi APMK mencapai Rp 10,76 triliun di Bali dengan volume 10,78 juta transaksi.
Jumlah mesin ATM di Bali mencapai 3.277 unit. Disinggung mengenai satu mesin EDC, ia berharap ke depan akan segera tercipta.
“Selama ini memang satu mesin EDC untuk satu penerbit kartu, sejak GPN sebenarnya itu sudah tidak ada lagi, jadi GPN menyatukan semua. Kartu bisa dibaca dalam satu mesin dan tidak perlu banyak EDC lagi,” katanya.
Hanya saja, itu untuk kartu debit. Ia memperkirakan mesin EDC yang banyak di kasir digunakan untuk transaksi kartu kredit.
Memang ke depan, kata dia, cita-citanya semua kartu dari semua bank bisa ditransaksikan satu mesin.
Jika dulu pihaknya berusaha mengurangi keluhan masyarakat yang susah bawa banyak uang.
“Kalau sekarang debit, kredit, sampai unik ada semua kartunya. Mungkin ke depan pakai QR code saja bisa melalui HP saja,” kata dia. (*)