Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Ular Ini Tewaskan Anggota Polisi, Ternyata di Indonesia Ada 76 Ular Beracun & Baru Ada 1 Anti-Bisa

Meski sempat dirawat oleh tim medis, namun nyawa korban tak tertolong akibat gigitan ular beracun yang diketahui dari jenis ular death adder

Editor: Ady Sucipto
Wikipedia
Ular Death Adder Papua 

TRIBUN-BALI.COM, -- Kabar duka datang dari anggota Polri, Brigadir Kepala Desri Sahrondi yang tergabung dalam Satgas Amole di Papua meninggal dunia setelah digigit ular berbisa. 

Meski sempat dirawat oleh tim medis, namun nyawa korban tak tertolong akibat gigitan ular beracun yang diketahui dari jenis ular death adder, Senin (29/7/2019). 

Dilansir Tribun Bali via Kompas.com, tahukah Anda jika di Indonesia ternyata memiliki 72 jenis ular berbisa yang sangat berbahaya jika racunnya masuk ke dalam tubuh manusia.

Dan mirisnya, dari sekian banyak ular berbisa di Indonesia, baru ada satu anti-bisa untuk menangani 3 jenis ular berbisa bagi para korban. 

“Kita butuh anti-bisa. Kita hanya punya satu yang meng-cover tiga jenis ular, yakni ular kobra, ular tanah, dan ular weling,” kata pakar gigitan ular dan toksikologi DR. dr. Tri Maharani, M.Si SP.EM., Selasa (12/9/2017).

Tri mengatakan, jumlah anti-bisa ular yang diproduksi oleh Badan Usaha Milik Negara Bio Farma hanya 40.000 setiap tahunnya.

Jumlah ini dirasa belum mencukupi bila mengingat bahwa kasus gigitan ular berbisa yang terjadi lebih banyak.

Meski tak ada angka pasti dari gigitan ular secara nasional, Tri menduga kasusnya tak berbeda jauh dengan kasus pengerita HIV AIDS yang mencapai 191.000 jiwa.

Dari 34 provinsi di Indonesia, Tri menduga angka gigitan ular bisa mencapai 135.000 kasus.

“LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan Bio Farma, serta beberapa universitas tertarik untuk mengembangkan anti-bisa. Jadi, harusnya pemerintah membiayai dan memacunya agar 76 ular berbisa di indonesia ada anti-bisanya,” ucap Tri.

Selain itu, Indonesia baru memiliki satu anti-bisa berjenis polivalen yang dapat digunakan untuk tiga jenis ular. Artinya, 73 anti-bisa ular lainnya harus didatangkan dari luar negeri.

Dari segi efektivitas, kekuatan polivalen hanya sepertiga dibandingkan monovalen.

Terhadap bisa ular ekor merah, misalnya, monovalen hanya butuh waktu 6 jam untuk memulihkan korban kembali.

“Semua jenis ular lebih bagus pakai monovalen. Satu peneliti LIPI yang tergigit ular di Simeuleu di bulan Agustus kemarin, 24 jam kemudian sudah bisa pulang,” ucap Tri.

SABU merupakan serum anti-bisa ular yang dibuat dari bisa ular.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved