Supported Content

166 Peserta Ikut Jetranas di Penglipuran Bangli

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kembali melaksanakan Jejak Tradisi Nasional (Jetranas)

166 Peserta Ikut Jetranas di Penglipuran Bangli
Tribun Bali/Putu Supartika
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kembali melaksanakan Jejak Tradisi Nasional (Jetranas) 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Tahun 2019 ini, Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kembali melaksanakan Jejak Tradisi Nasional (Jetranas).

Jetranas merupakan kegiatan pembelajaran kebudayaan untuk mengunjungi dan berinteraksi secara langsung dengan masyarakat, serta melihat keragaman tradisi yang masih hidup.

Kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun sejak tahun 2011 dan tahun ini mengambil tema "Memajukan Kebudayaan Merekatkan Kebinekaan."

Menurut Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Dirjen Kebudayaan, Christriyati Ariani saat pembukaan Jetranas di Hotel Prime Plaza Sanur, Minggu (4/8/2019) malam mengatakan peserta yang ikut merupakan peserta terbaik pada kegiatan Jejak Tradisi Daerah (Jetrada) yang dilaksanakan oleh Balai Pelestari Nilai Budaya yang ada di 11 wilayah.

Jumlah keseluruhan pesertanya adalah 166 orang, sudah termasuk peserta undangan dari sekolah menengah umum yang ada di Kota Denpasar dan sekitarnya.

Dalam kegiatan Jetranas ini, para siswa akan dibagi dalam beberapa kelompok dan diperkenalkan pada budaya yang berbeda dengan daerah asalnya.

"Selama seminggu mereka juga akan berinteraksi dengan teman-temannya yang berbeda suku, agama dan kebudayaan. Mereka diberikan pengalaman untuk tinggal di lingkungan budaya dengan melihat dan merasakan budaya yang berbeda dari lingkungan asalnya, yaitu Desa Adat Penglipuran, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali," kata Ariani.

Peserta juga diberikan tugas untuk menggali dan memahami berbagai obyek pemajuan kebudayaan yang ada di Desa Adat Pengipuran, seperti tarian tradisional, kerajinan tradisional, alat musik tradisional, pakaian pengantin tradisional, arsitektur tradisional, pura, kuliner tradisional, permainan tradisional, upacara tradisional, senjata tradisional, dan pengobatan tradisional.

Dalam pelaksanaannya peserta akan berinteraksi Iangsung dengan masyarakat serta wawancara dengan tokoh adat dan budaya.

Hasil interaksi dan wawancara tersebut akan disusun sebagai Iaporan kegiatan dan akan dipresentasikan dihadapan narasumber dan pembahas pada akhir kegiatan.

Halaman
12
Penulis: Putu Supartika
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved