BPJS Kesehatan

Mang Arik: Saya Tidak Mengada-ada, JKN-KIS Memang Pahlawan dalam Hidup Saya

Dalam suasana peringatan kemerdekaan ini, ia menyebut JKN-KIS sebagai pahlawan atas apa yang pernah ia alami ketika mempercayakan kesehatannya

Mang Arik: Saya Tidak Mengada-ada, JKN-KIS Memang Pahlawan dalam Hidup Saya
BPJS Kesehatan
Salah seorang peserta Jaminan Kesehatan Nasional Kartu Indonesia Sehat dari Banjar Lokaserana, Desa Siangan, Gianyar yang bernama Ni Nyoman Januari Ani (33), menyampaikan pengalaman positifnya menjadi peserta JKN-KIS. 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR -  Bertepatan pada momen Ulang Tahun ke-74 Republik Indonesia, salah seorang peserta Jaminan Kesehatan Nasional Kartu Indonesia Sehat dari Banjar Lokaserana, Desa Siangan, Gianyar yang bernama Ni Nyoman Januari Ani (33), menyampaikan pengalaman positifnya menjadi peserta JKN-KIS.

Bahkan dalam suasana peringatan kemerdekaan ini, ia menyebut JKN-KIS sebagai pahlawan atas apa yang pernah ia alami ketika mempercayakan kesehatannya kepada program wajib yang dicanangkan oleh pemerintah ini.

"Ini sangat pas sekali, pada hari yang berbahagia bagi Indonesia karena memperingati ulang tahun ke-74 Republik Indonesia, saya mendapat kesempatan untuk berbagi pengalaman tentang JKN-KIS. Saya ingin menyampaikan bahwa JKN-KIS merupakan salah satu pahlawan dalam hidup saya,” ungkap Mang Arik nama panggilannya saat ditemui di Balai Budaya Gianyar untuk mengikuti gerak jalan.

Mang Arik menegaskan alasannya menyebut JKN-KIS sebagai pahlawan tiada lain karena ia selalu merasakan pertolongan JKN-KIS ketika ia membutuhkan.

Ia membayangkan jika tidak ada JKN-KIS entah berapa biaya yang harus ia keluarkan untuk keperluan berobat keluarganya.

Bahkan baru-baru ini anaknya mengalami sakit panas dan dirawat di salah satu klinik swasta tempat ia terdaftar. Saat itu ia menggunakan JKN-KIS untuk berobat tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun.

Belum lagi saat ia melahirkan kedua anaknya dan juga keluarga lainnya yang memang pernah di rawat di rumah sakit menggunakan JKN-KIS.

Hal itu yang juga menjadi alasan betapa banyaknya manfaat yang ia dapat sebagai peserta JKN-KIS. Ia pun sangat berterima kasih kepada JKN-KIS dan memiliki harapan akan keberlangsungan program ini kedepannya.

“Saya sangat berterima kasih kepada pemerintah, dokter, perawat, BPJS Kesehatan dan semua yang berkaitan dengan JKN-KIS ini, mungkin ucapan saja tidak cukup, oleh sebab itu yang saat ini dapat saya lakukan adalah menjadi peserta yang baik dengan cara rutin membayar iuran, saya sangat berharap sekali JKN-KIS ini selalu dapat membantu masyarakat dan masyarakatpun dapat membantu JKN-KIS ini agar bisa seterusnya,” ungkapnya.

Menurutnya membayar iuran adalah hal yang paling utama dapat dilakukan oleh peserta JKN-KIS agar.

Ia pun memiliki pendapat bahwa dengan iuran yang tidak seberapa tersebut menjadi sebuah tabungan kesehatan untuk peserta JKN-KIS.

Bukan berarti harus mendapatkan manfaat pengobatan karena sudah membayar iuran, tetapi justru wajib menjadi sehat sehingga iuran tersebut tidak sia-sia dan berguna untuk orang lain.

Mang Arik beserta keluarganya sebelumnya terdaftar sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang iurannya dibayarkan oleh pemerintah, namun ia memutuskan untuk pindah sebagai peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) yang iurannya dibayarkan sendiri.

Saat ini ia bekerja sebagai guru honorer di salah satu Sekolah Dasar di Gianyar.

Ia pun berharap kepesertaanya nanti dapat ditanggung oleh Pemberi Kerja yaitu pemerintah Kabupaten Gianyar sebagai peserta Pekerja Penerima Upah (PPU). (*)

Editor: Widyartha Suryawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved