Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Terkendala Anggaran, Rencana Pemasangan Pagar Pengaman di Devil Tears Lembongan Ditunda

Rencana Pemkab Klungkung membangun pagar pembatas di objek wisata Devil Tears Nusa Lembongan tahun ini harus tertunda

Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Widyartha Suryawan
Istimewa
Wisatawan menikmati objek wisata Devil's Tear di Pulau Lembongan, Nusa Penida, Jumat (16/9/2019). Pemasangan pagar pengaman di destinasi wisata tersebut harus di tunda tahun ini. 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Rencana Pemkab Klungkung membangun pagar pembatas di objek wisata Devil Tears Nusa Lembongan tahun ini harus tertunda.

Anggaran yang dialokasikan belum dapat merealisasikan pembangunan pagar pengaman secara menyeluruh.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Klungkung, I Nengah Sukasta menjelaskan, tahun ini pihaknya telah merancang anggaran pemasangan pagar pengaman sejumlah Rp 60 juta.

Anggaran itu rencananya untuk menambah pemasangan pagar pengaman bantuan dari Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA).

"Ternyata pembangunan pagar pengaman yang rencananya dilakukan ASITA di Devil Tears Lembongan sampai saat ini belum ada kepastian,” ujar Sukasta, Jumat (16/8/2019).

Setelah melakukan komunikasi dengan tokoh masyarakat dan pelaku wisata di Desa Lembongan, dana sebesar Rp 60 juta untuk pembuatan pagar pengamanan sepanjang 50 meter di kawasan itu, dirasa belum cukup dan kurang efektif.

Mengingat dengan anggaran itu, hanya sebagian kecil kawasan Devil's Tear yang terlindungi. Atas usulan itu, akhirnya rencana pembangunan pagar pengaman di objek wisata Devil's Tear batal direalisasikan tahun 2019.

“Karena 50 meter itu dirasakan nanggung. Jadi diminta untuk dibuatkan pagar pengaman secara menyuluh," jelas Sukasta.

Menanggapi masukan dari warga, pemkab pun membuat perencanaan pembangunan pagar pengaman secara menyeluruh.

Pagar pengaman tersebut dibangun sepanjang 350 meter. Sementara materialanya masih sama seperti kesepakatan dengab warga, yakni kayu dan tali tambang agar terlihat natural.

Selain belum dipasang pagar pengaman, papan peringatan di destinasi Devil's Tear yang telah rusak juga membuat destinasi di atas tebing curam itu kian rawan.

Pihaknya telah mewanti-wanti para pemandu wisata dan warga sekitar untuk terus mengawasi wisatawan yang berkunjung ke Devil's Tear.

Pemandu wisata juga diharapakan berani menegur wisatawan jika aksi mereka membahayakan keselamatan.

Objek wisata Devil's Tear di Lembongan merupakan satu di antara destinasi yang paling ramai dikunjungi wisatawan. Namun lokasi ini juga menjadi destinasi yang paling rawan.

Ketika berwisata di destinasi ini, wisatawan kerap berdiri di pinggir tebing karang curam. Lalu berfoto dengan latar belakang cipratan gelombang Samudera Hindia.

Kecelakaan fatal yang menyebabkan korban jiwa sering terjadi karena wisatawan kerap berfoto tanpa mengindahkan keselamatan mereka.

Selain Devil's Tear, beberapa objek wisata lain di Nusa Penida juga rawan kecelakaan, karena berada di atas tebing terjal seperti Pantai Klingking, Broken Beach, dan Angel Billabong di Desa Bunga Mekar.

Termasuk Pantai Atuh, Bukit Molenteng dan Diamond Beach.

"Penataan termasuk pemasangan pagar pengaman di objek wisata lain juga terganjal status lahan. Banyak lahan di sekitar destinasi itu sudah jadi hak milik pribadi," ungkap Sukasta.

Citra Pariwisata
Permasalahan keamanan wisatawan di Nusa Penida ini juga mendapatkan atensi dari Anggota DPRD Klungkung, I Made Jana.

Politikus asal  Desa Pejukutan, Nusa Penida ini mengatakan, masalah keamanan dan kenyamanan wisatawan jika tidak diperhatikan bisa berimbas terhadap citra pariwisata.

Terlebih di era teknologi serba canggih, informasi  bisa dengan cepat diakses hingga di luar negeri.

“Perlu dinergitas antar semua pihak untuk menyikapi masalah ini, karena insiden kecelakaan ini bisa berdampak negatif terhadap citra pariwisata,” ujar Made Jana beberapa waktu lalu.

Politikus Partai Demokrat ini mengatakan, berbicara keselamatan maka tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada pemerintah saja.

Namun perlu adanya sinergitas pelaku parwisata dan masyarakat. Karena dengan pemasangan papan imbauan saja tentu masih belum optimal yang terpenting ada pengawasan langsung kepada wisatawan yang berkunjung. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved