Bendungan Telaga Tunjung Tabanan Menyusut, Debit Air Turun Picu Gangguan di 3 Irigasi

Turunnya debit air ini disebabkan karena musim kemarau. Kondisi ini praktis mengakibatkan suplai air ke subak menjadi terganggu

Bendungan Telaga Tunjung Tabanan Menyusut, Debit Air Turun Picu Gangguan di 3 Irigasi
Tribun Bali/Made Prasetia Aryawan
Air di Bendungan Telaga Tunjung, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, mengalami penurunan debit air, Senin (19/8/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Kondisi Bendungan Telaga Tunjung di Kecamatan Kerambitan, Tabanan, surut, Senin (19/8/2019).

Debit air berkurang hingga satu meter lebih. Menurunnya debit air mengakibatkan tiga daerah irigasi terdampak.

Bendungan Telaga Tunjung mengairi tiga daerah irigasi di antaranya Meliling, Kecamatan Kerambitan, yang terdiri tiga subak dengan luas 566 hektare.

Kemudian Gadungan di Kecamatan Selemadeg Timur sebanyak tujuh subak dengan luas 485 hektare dan terkakhir Sungsang di Kecamatan Kerambitan sebanyak dua subak dengan luas 430 hektare.

"Bendungannya sudah surut sejak dua pekan lalu. Ini terjadi musiman, artinya setiap musim kemarau bendungan pasti kering atau surut," ujar Penjabat Perbekel Desa Timpah, Made Sumertayasa, Senin (19/8/2019).

Turunnya debit air ini disebabkan karena musim kemarau. Kondisi ini praktis mengakibatkan suplai air ke subak menjadi terganggu. Terutama subak yang berada di bagian hilir yakni di wilayah Selemadeg Timur.

Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang Perumahan dan Kawasan Pemukiman (PUPRPKP) Tabanan, Ni Ketut Sri Astini mengatakan, kawasan bendungan merupakan wewenang dari Balai Wilayah Sungai (BWS).

Meskipun begitu, laporan terkait kekeringan atau surutnya bendungan belum sampai ke pihaknya.

"Gangguan pasti ada, namun belum ada laporan masuk ke kami maupun BWS. Biasanya, mereka atau warga setempat yang terdampak sudah bisa menanganinya sendiri," ujar Astini.

Akibat turunnya debit air, kata dia, pihak subak yang terdampak diimbau agar berkoordinasi masalah pembagian air. Sedianya pembagian air disarankan bergilir agar semua bisa berjalan normal.

"Kami imbau agar melakukan sistem bergilir, sehingga semua subak bisa mendapatkan suplai air yang cukup agar tidak sampai gagal panen," tandasnya. (*)

Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved