Memaksa Anak Lakukan Aborsi Hasil Hubungan Gelap, Oliviana Menangis Divonis Tinggi

Memaksa Anak Lakukan Aborsi Hasil Hubungan Gelap, Oliviana Menangis Divonis Tinggi

Memaksa Anak Lakukan Aborsi Hasil Hubungan Gelap, Oliviana Menangis Divonis Tinggi
Tribun Bali/Putu Candra
Memaksa Anak Lakukan Aborsi Hasil Hubungan Gelap, Oliviana Menangis Divonis Tinggi 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Tangis Oliviana Wolla Mawo (26) pecah usai menjalani sidang vonis di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Selasa (27/8).

Dia divonis lebih tinggi daripada pasangannya, yakni pidana penjara selama lima tahun. Sedangkan Mikael Bulu alias Melkianus (23) divonis tiga tahun penjara.

Kedua pasangan yang telah menikah secara adat ini dinyatakan bersalah, karena memaksa AN (saksi terdakwa) melakukan aborsi. AN melakukan aborsi atas perintah Oliviana (kakak kandung AN) dan Mikael. AN sendiri hamil setelah disetubuhi oleh Mikael yang tak lain adalah kakak iparnya.

Terhadap vonis yang dijatuhkan majelis hakim pimpinan I Wayan Kawisada, para terdakwa yang didampingi tim penasihat hukumnya dari Pos Bantuan Hukum (PBH) Peradi Denpasar menerima. Hal senada juga disampaikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) IGN Wirayoga atas putusan majelis hakim tersebut. "Untuk menebus kesalahan dan dosa, saudara menerima ya," tanya kembali Hakim Ketua Kawisada kepada kedua terdakwa. Oliviana pun hanya bisa mengangguk sembari mengusap air matanya.

Putusan majelis hakim itu, sejati lebih ringan dibandingkan tuntutan yang diajukan jaksa. Pada sidang tuntutan dua pekan lalu, Jaksa IGN Wirayoga menuntut Oliviana dengan pidana penjara selama enam tahun. Sedangkan Mikael dituntut empat tahun penjara.

Majelis hakim dalam amar putusan menerangkan, bahwa perbuatan para terdakwa telah memenuhi unsur tindak pidana, sebagaimana dakwaan tunggal. Pula diuraikan hal memberatkan dan meringankan sebagai pertimbangan putusan. Hal memberatkan, perbuatan para terdakwa mengakibatkan janin yang dikandung AN mengalami kematian. Perbuatan keduanya sangat meresahkan masyatakat.

"Hal meringankan, para terdakwa mengaku bersalah, dan menyesal. Keduanya bersikap sopan selama jalannya persidangan," papar Hakim Ketua Kawisada.

Berdasarkan uraian unsur tindak pidana dan sejumlah pertimbangan itu, kedua terdakwa dinyatakan, telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana, dengan sengaja melakukan aborsi terhadap anak yang masih dalam kandungan, dengan alasan dan tata cara yang tidak dibenarkan oleh ketentuan peraturan Perundang-Undangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45A.

Oleh karena itu, kedua terdakwa dijerat Pasal 77A ayat (1) jo Pasal 54A UU No.35 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

"Mengadili, menjatuhkan pidana kepada terdakwa Mikael Bulu alias Melkianus pidana penjara selama tiga tahun dan terdakwa Olviana Wolla Mawo dengan pidana penjara selama lima tahun penjara, dikurangi selama keduanya menjalani tahanan sementara," tegas Hakim Ketua Kawisada.

Selain divonis pidana badan, oleh majelis hakim, kedua terdakwa juga dituntut pidana tambahan, yakni pidana denda masing-masing Rp 50 juta subsidair pidana kurungan selama tiga bulan.

Diungkap dalam surat dakwaan jaksa, awalnya AN (pada saat kejadian masih anak) disetubuhi oleh Mikael dari bulan Nopember 2017. Atas perbuatan Mikael, AN hamil. Mengetahui AN hakim, Mikael memberitahukan ke Oliviana (kakak kandung AN). Mendengar adiknya hamil, Oliviana marah dan apalagi yang menghamili adalah Mikael. Oliviana pun menyuruh AN untuk menggugurkan kandungannya.

Untuk mengugurkan janin yang dikandung AN, Mikael dan Oliviana menggunakan beberapa cara, diantaranya ke tukang pijat, meminum ramuan. Serta memasukan obat pengugur kandungan ke alat vital AN.

Itu membuat AN mengalami pendarahan dan mengalami sakit perut. Dan saat ke kamar mandi, janin yang dikandungnya pun keluar dan dalam keadaan meninggal. Oleh Mikael, janin itu kemudian dimasukan ke tas kresek dan disimpan di lemari pakaian bagian atas.

"Setelah kejadian, AN merasa takut dan sering mimpi buruk. Karena tidak tahan, AN lalu menelepon Nonce dan menceritakan kejadian itu. Lalu minta tolong, saksi Yeni Damaris datang ke kos bersama pecalang, kemudian melaporkan ke polisi," beber Jaksa Wirayoga kala itu. CAN

Penulis: Putu Candra
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved