Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Bedah Buku Gerilya dan Cinta, Dari Yatra Menjadi Sastra untuk Menyampaikan Rasa

Bedah Buku Gerilya dan Cinta, Dari Yatra Menjadi Sastra untuk Menyampaikan Rasa

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana | Editor: Aloisius H Manggol
Tribun Bali/I Wayan Sui Suadnyana
Jero Adit Alamsta mengisahkan proses menulis buku "Gerilya dan Cinta: Ibu Pertiwi Murka karena Manusia Durhaka", Minggu (1/9/2019) di Lakeview Hotel and Restoran, Batur, Kintamani, Bangli. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sebuah buku berjudul "Gerilya dan Cinta: Ibu Pertiwi Murka karena Manusia Durhaka" dibedah pada Minggu (1/9/2019) di Lakeview Hotel and Restoran, Batur, Kintamani, Bangli.

Buku garapan anak muda Batur, Jro Adit Alamsta itu diterbitkan pada April 2019 oleh Mahima Institut Indonesia.

Gerilya dan Cinta berkisah tentang perjalanan, perjuangan dan asmara penulis yang dirangkum melalui kumpulan prosa.

Dosen muda dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) yang juga putra Bangli I Putu Eka Gunayasa setelah membaca buku tersebut memiliki keyakinan bahwa sebuah tulisan akan lebih unggul nilainya apabila dilatarbelakangi oleh suatu 'yatra'.

Guna yang sebagai pembedah buku itu menuturkan, 'yatra' tersebut memiliki arti 'perjalanan' yang mampu membawa penulis menemukan 'sastra' yang berarti tulisan atau catatan.

Dari sastra itu, kata Guna, akan ada sebuah motif untuk menyampaikan tujuan atau rasa.

"Jadi ada tiga siklus sebenarnya dalam pencipataan sebuah tulisan yang seringkali menyebabkan tulisan itu memiliki kekuatan. Tiga siklus yang saya maksudkan itu adalah yatra, sastra dan rasa," tuturnya.

Guna yang aktif menekuni lontar itu juga berkeyakinan bahwa buku ini merupakan sari-sari perjalanan dari penulis yang telah mengarungi suka-duka kehidupan.

Dalam suka yang dimaksud Guna, ialah ketika penulis merasakan ciuman pertama dalam biduk kisah asmaranya.

"Pastilah kita sebagai makhluk yang normal ya, kita pasti akanerasakan bahagia yang luar biasa apabila kita mendapatkan ekspresi kasih sayang yang tinggi berupa luapan cinta," tuturnya.

Sementara perasaan duka yang ditulis penulis, Guna menemukan sebuah tulisan bertajuk "Bocah Kecil" di dalam buku itu.

Kisah Bocah Kecil itu mengenang kisah perjalanan penulis yang semasa kecilnya memiliki satu geng atau perkumpulan yang bernama Genk Jogor Manik.

Nama Jogor Manik diambil dari nama salah satu "staff" di alam lain yang bertugas untuk menghukum arwah yang tidak melaksanakan Dharma selama hidupnya

Nama Jogor Manik diambil karena anggota komunitas tersebut bertempat tinggal di dekat kuburan

Ketika geng jogor manik ini telah melakukan berbagai kenakalan, menjelang ujian terdapat salah satu anggotanya meninggal dunia secara dan tidak diketahui jelas apa penyebabnya.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved