Perjuangan Bocah SD di Danau Batur, Agus Naik Sampan ke Sekolah Saban Hari
Saban hari Agus naik sampan melintasi Danau Batur menuju ke sekolah lantaran tidak ada akses melalui jalur darat.
Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Widyartha Suryawan
TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Gede Agus Wardika adalah potret lain dari wajah Bali yang kerap dielu-elukan sebagai daerah pariwisata kelas dunia.
Bocah 10 tahun itu perlu perjuangan lebih untuk mengenyam pendidikan dasar.
Saban hari Agus mendayung sampan melintasi Danau Batur, lantaran tidak ada akses jalur darat menuju sekolahnya.
Setelah memakai seragam sekolah dan mengambil tas berisi buku pelajaran, Agus bergegas menuju tepian Danau Batur, Kabupaten Bangli.
Dia melepas tambatan lalu melompat masuk ke dalam sampan kecil.
Tangan mungilnya lincah mendayung, mendorong sampan melaju di atas permukaan danau yang tenang menuju ke seberang.
Begitulah rutinitas Gede Agus Wardika.
Anak pertama pasangan Putu Wardana dan Ni Nengah Sudiani ini murid SD Negeri 1 Terunyan.
Selama dua tahun terakhir, Agus selalu naik sampan menuju ke sekolahnya.
Maklum dia tinggal bersama orangtuanya di pondokan Waru.
Letak pondokan itu terpisah dari permukiman warga lain, meskipun masih berada dalam satu wilayah Banjar Terunyan.
“Kalau berangkat sekolah awal-awalnya diantar bapak. Tapi sejak kelas II SD saya berangkat sendiri,” katanya kepada Tribun Bali, Rabu (4/9/2019).
Agus tiap hari harus bangun pagi lebih awal.
Sebab untuk menuju sekolah paling tidak ia membutuhkan waktu selama 30 menit.
Ia terpaksa absen sekolah ketika musim hujan tiba.
Sedangkan saat gelombang besar akibat angin kencang, murid kelas IV SD ini diantar oleh ayahnya.
“Biasanya saat sasih kawulu (bulan kedelapan menurut sistem penanggalan Bali, red.) ombaknya besar,” ucapnya.
Agus yang bercita-cita menjadi guru matematika ini berharap suatu saat bisa memiliki sampan sendiri.
Sampan yang dia gunakan sekarang merupakan satu-satunya milik keluarga. Ukurannya pun tergolong kecil.
Dengan sampan sekecil itu, Agus tidak bisa membawa adiknya Kadek Ervan Sugianto (6), yang kini duduk di kelas 1 pada sekolah yang sama.
Ia khawatir tidak mampu menjaga keseimbangan jika adiknya ikut menumpang sampan.
“Adik diantar-jemput bapak, sampannya pinjam milik tetangga,” ujarnya.
Kepala SDN 1 Terunyan, I Nyoman Siem, membenarkan jika Agus tinggal terpisah dari warga Banjar Terunyan lainnya.
Lokasi Pondok Waru berada di belakang Setra Adat yang menjadi objek wisata andalan Desa Terunyan.

“Di pondokan Waru itu hanya terdapat lima KK (kepala keluarga). Sedangkan siswa kami yang bermukim di tempat tersebut, hanya dua orang yakni Agus dan Ervan. Kalau Agus bawa sampan sendiri, sedangkan Ervan diantar dan ditunggui ayahnya sampai pulang,” ungkapnya.
Nyoman Siem memaklumi jika Agus kerapkali tiba pas jam masuk sekolah pukul 7.30 Wita.
Walau demikian, diakui Agus tergolong siswa berprestasi. Saat kenaikan dari kelas II ke kelas III, ia menempati peringkat III.
Dan pada kenaikan kelas IV, prestasinya meningkat yaitu meraih peringkat 1 di kelasnya.
Pria yang mejabat kepala sekolah sejak tahun 2011 itu menambahkan, siswa pendukung SDN 1 Terunyan berasal dari dua banjar yaitu Banjar Terunyan dan Banjar Madya.
Sementara itu, ada pula siswa dari Banjar Madya sebanyak lima orang yang pulang-pergi tiap hari lewat jalan darat.
Tidak ada akses jalan yang bisa dilintasi sepeda motor dari Banjar Madya menuju Banjar Terunyan. Warga harus memutar lewat Karangasem.
“Di Banjar Madya juga belum ada akses jalan menuju Banjar Terunyan, khususnya yang bisa dilintasi sepeda motor. Adapun akses jalan harus memutar lewat Karangasem. Seluruh siswa kami asal Banjar Madya itu jalan kaki ke sekolah dengan jarak tempuh sekitar 40 menit," ujarnya.
"Kami berharap pemerintah bangun akses jalan yang memadai untuk memudahkan siswa-siswi kami mendapatkan pendidikan dasar,” tandasnya. (muhammad fredey mercury)