Dharma Wacana
Filosofi Upacara Mapegat, Begini Penjelasan Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda
Upacara mapegat yang dilakukan umat Hindu di sejumlah daerah di Bali, merupakan bagian dari ritus atau upacara kematian.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ady Sucipto
Oleh Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda
TRIBUN-BALI.COM, -- Upacara mapegat yang dilakukan umat Hindu di sejumlah daerah di Bali, merupakan bagian dari ritus atau upacara kematian.
Mapegat juga dapat dikatakan sebagai upacara perpisahan dengan Sang Roh, ketika dia akan menuju Sumbernya.
Namun yang jelas, upacara ini ada tidak sekadar dijalankan, tetapi ada nilai filosofis, spiritual dan sosiologis di dalamnya.
Secara sosiologis, upacara ini berada dalam dua posisi.
Pertama, mepepegat (perpisahan) dengan keluarganya, yang mana ritual ini dilakukan bersamaan dengan ketika pihak keluarga menggelar upacara pamerasan di rumah.
Tujuan dari upacara ini ialah sebagai upaya memberitahukan pada Sang Roh yang meninggal bahwa semua tugas-tugas yang tidak diselesaikannya semasa hidup, akan dilanjutkan oleh pretisentananya.
Dengan demikian, Sang Roh pun akan menuju alam Sang Pencipta tanpa beban.
Kedua, selama hidupnya, orang yang meninggal ini tentu memiliki ikatan komunitas, entah itu desa adat atau banjar dan yang lain.
Dalam memutus hubungan ini, di suatu daerah biasanya akan digelar upacara mepepegat di jalan atau luar pintu masuk-keluar rumah.
Di berbagai daerah di Bali, ada juga yang melakukannya di cangkem setra (jalan masuk ke kuburan).
Upacara mepepegat di sini, tujuannya adalah melepaskan hubungan kekerabatan dalam aspek menyamabraya, mebanjar dan sebagainya.
Upacara mapepegat secara teologis adalah bagaimana Sang Atman secara personaliti menyadari bahwa di dunia ini tidak ada yang kekal, dan harus diputuskan.
Ada konsep pemisahan antara roh dengan badan, supaya Sang Roh tidak lagi menganggap dirinya adalah badan.
Tapi dia sudah menjadi roh, yang harus kembali pada Sang Pencipta.