Kisah Suparman, Petugas Kebersihan TPS Sidakarya Yang Sering Makan Omelan Warga
Dengan gaji Rp 1,5 juta setiap bulannya, ia mengaku cukup untuk menghidupi keluarganya.
Penulis: Noviana Windri | Editor: Eviera Paramita Sandi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Melihat sampah menumpuk dan mengeluarkan bau tak sedap memang menyebalkan.
Terlebih ketika mencium bau tak sedap yang menyengat dari tumpukan sampah ketika melintasi TPS atau TPA di sudut-sudut kota.
Pastinya kita akan menggerutu, mengeluh atau bahkan mencaci maki sumber bau yang tercium tersebut.
Lalu, pernahkah kita sejenak membayangkan bagaimana para petugas kebersihan menggantungkan hidupnya dari sampah yang makin hari makin menggunung dan bau menyengat yang tak terbendung?
Suparman, salah satu orang yang menggantungkan hidupnya dari sampah menceritakan kisahnya kepada Tribun Bali, Rabu (11/9/2019).
Ia adalah salah satu petugas di depo transit TPS Sidakarya, Sesetan, Denpasar, Bali.
Meski sebagian besar orang menganggap kotor dan menjadi sarang penyakit, namun kenyataannya sudah 10 tahun ia bergulat dengan tumpukan sampah.
"Gajinya lebih lumayan daripada saat saya kerja buruh bangunan di proyek," ungkapnya.
Di depo transit TPS Sidakarya, lelaki asal Banyuwangi ini bertugas mengangkut sampah dari rumah ke rumah mulai pukul 06.00-12.00 Wita.
Dengan gaji Rp 1,5 juta setiap bulannya, ia mengaku cukup untuk menghidupi keluarganya.
"Alhamdulillah cukup, Mbak. Saya kerja cuma setengah hari. Setengah harinya saya gunakan untuk cari tambahan," jelasnya.
Seusai bekerja, Suparman memanfaatkan waktu setengah harinya untuk mencari rongsokan yang juga dari tumpukan sampah.
Suparman mampu mengumpulkan Rp 35-60 ribu per hari dari rongsokan yang dikumpulkan.
Meski demikian, setiap pekerjaan tentu ada dukanya. Begitupun Suparman.
10 tahun menjadi petugas kebersihan, Suparman mengaku sering diomeli oleh masyarakat jika telat mengangkut sampah.
"Hampir tiap hari makan omelan, Mbak. Kalau masyarakatnya nggak sabaran. Kadang langsung main lapor ke kantor tanpa tanya alasan.
Kami yang di bawah ini langsung dimarahi oleh atasan. Sedih ya sedih. Tapi mau gimana lagi. Namanya orang kerja pasti punya risiko," ceritanya.
Selain itu, Suparman juga mengaku sering diremehkan orang dengan pekerjaannya.
"Ada saja yang meremehkan. Banyak yang meremehkan orang yang kerja di sampah. Katanya jorok dan bau kalau dekat-dekat," katanya.
Kendala terbesar dalam bekerja diungkapkannya adalah ketika musim hujan.
Bisa ataupun tidak bisa, ia harus tetap bekerja mengangkut sampah dari rumah ke rumah.
Jika telat sehari, masyarakat akan mengatakan sampah menumpuk seperti tak diangkut selama sebulan.
Bahkan, tak jarang menggunakan alasan telah membayar untuk dijadikan senjata untuk memarahi petugas kebersihan.
Tidak hanya Suparman, beberapa petugas kebersihan pun juga mengatakan hal yang sama. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/tps-sidakarya.jpg)