Jadi Daerah Penyangga Air Bersih di Bali, Bupati Sebut Bangli Belum Mendapat Perhatian

Menjadi daerah penyangga dan penghasil air bersih di Provinsi Bali, Bangli justru belum mendapat perhatian yang cukup dari Pemerintah Provinsi Bali

Jadi Daerah Penyangga Air Bersih di Bali, Bupati Sebut Bangli Belum Mendapat Perhatian
Tribun Bali/Fredey Mercury
Bupati Bangli, I Made Gianyar saat memimpin apel, Selasa (17/9/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Menjadi daerah penyangga dan penghasil air bersih di Provinsi Bali, Bangli justru belum mendapat perhatian yang cukup dari Pemerintah Provinsi Bali maupun kabupaten lainnya di Bali.

Bupati Bangli pun menebar ancaman, untuk mereklamasi pangkung (sungai mati) apabila usulan terkait kontribusi tidak disetujui.

Hal tersebut diungkapkan Bupati Bangli, I Made Gianyar saat memimpin jalannya apel disiplin pegawai dilingkungan Pemerintah Kabupaten Bangli, Selasa (17/9/2019).

Dikatakan, sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Bali, Kabupaten Bangli ditetapkan sebagai daerah penyangga dan daerah konservasi.

Sehingga, kawasan hutan di Kabupaten Bangli menjadi hutan lindung, pohonnya tidak boleh ditebang, dan kelestarian lingkungan harus menjadi hal yang utama.

Sebab itulah pihaknya turut mengajukan satu pasal dalam Perda RTRW Provinsi Bali itu.

Menurut Made Gianyar, udara bersih dan air bersih yang dihasilkan Kabupaten Bangli sudah sepantasnya diberikan kontribusi dari kabupaten lain yang menikmati.

Made Gianyar juga menebar ancaman untuk menerapkan rencana reklamasi pangkung yang ada di Bangli.

“Kalau memang pasal ini tidak disetujui, saya tidak ragu lagi menjalankan alternatif terkahir. Saya sudah perintahkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) agar tidak menggangarkan pembelian tanah untuk mengurug sampah di TPA. Bangli tidak punya uang untuk membeli tanah, sehingga sampah tidak perlu dibawa lagi ke TPA, tetapi bisa langsung digunakan untuk mereklamasi pangkung,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, Made Gianyar juga mengaku sudah memerintahkan Bagian Ekonomi dan PDAM Bangli, untuk mengecek PDAM mana saja yang mengambil sumber air dari Bangli.

Tindak lanjutnya, semua PDAM yang menggunakan sumber air dari Bangli akan disurati untuk diwajibkan kerja sama dengan PDAM Bangli.

“Misalkan PDAM Kabupaten Gianyar pakai air dari Bangli, terus dijual empat ribu per meter kubik, PDAM Bangli juga harus dapat persentase. Tidak harus lima puluh persen lima puluh persen. Paling tidak dari harga Rp. 4 ribu, Bangli kebagian seribu rupiah,” jelasnya.

Selain itu, Made Gianyar juga mengatakan upaya yang dia lakukan ini untuk memantapkan rencana mengejar pendapatan asli daerah (PAD), utamanya dari sektor air dan lingkungan.

Bupati asal Desa Bunutin, Kintamani tersebut juga mengaku sudah menugaskan dua tim untuk mendalami kerjasama yang ada diluar daerah. Yakni antara DKI Jakarta dan Bogor, Jawa Barat.

“Satu tim saya tugaskan untuk mendalami bagaimana perhatian DKI Jakarta terhadap Bogor, dan satu tim saya tugaskan untuk mengkaji harapan Bogor terhadap DKI Jakarta,” terangnya. (*)

Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved