Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Menaklukkan Lilitan Ular Piton hingga Pertolongan Pertama Saat Digigit Ular Berbisa

Berbicara ular, banyak jenisnya mulai dari yang tidak berbisa hingga berbisa. Lalu bagaimana cara menangani serangan ular?

Tayang:
Penulis: Putu Supartika | Editor: Irma Budiarti
Tribun Bali/Saiful Rohim
(Foto ilustrasi, tidak terkait berita) Warga bersama RAPI Lokal Kecamatan Bebandem menangkap ular piton sepanjang 3.5 sampai 4 meteran, Sabtu (19/1/2019). Menaklukkan Lilitan Ular Piton hingga Pertolongan Pertama Saat Digigit Ular Berbisa 

Menaklukkan Lilitan Ular Piton hingga Pertolongan Pertama Saat Digigit Ular Berbisa

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kejadian ular masuk rumah di Kota Denpasar kembali terjadi.

Jenisnya pun beragam, dari ular sanca, ular piton, ular sawah, hingga ular kobra.

Dan pada Kamis (19/9/2019) pukul 00.30 Wita dini hari tadi seekor ular sanca kembali masuk rumah warga.

Kejadian ini terjadi di salah satu rumah di Jalan Pura Demak, Denpasar, Bali.

Ular sanca ini pun memiliki panjang kurang lebih 4 meter.

Setelah dilaporkan ke BPBD Denpasar, pihak BPBD pun menerjunkan crew penangkap ular dari Pos Induk untuk melakukan penangkapan.

Berbicara ular, banyak jenisnya mulai dari yang tidak berbisa hingga berbisa.

Lalu bagaimana cara menangani serangan ular?

Menurut pemelihara ular yang tinggal di Denpasar, Ketut Oka Widhiartana, ular piton maupun sanca merupakan ular terpanjang di dunia.

Selain itu, jika sudah besar ular ini memiliki belitan yang sangat kuat.

Namun ular piton atau ular sanca bukan jenis ular yang berbisa.

Ular ini lebih pada melilit mangsanya untuk kemudian meremukkan tulangnya sebelum ditelan bulat-bulat.

Bahkan ular ini mampu menelan mangsanya yang berukuran 10 kali lebih besar dari ukuran mulutnya.

"Jenis piton atau sanca kembang lebih pada melilit untuk meremukkan tulang mangsanya baru kemudian dimakan. Kalau manusia kena gigit (dipatuk) tidak ada racun atau bisa sama sekali karena memang tidak berbisa," katanya.

Namun Oka mengatakan, ular ini memiliki kelemahan.

Untuk melepaskan lilitannya yang kuat, cukup dengan menekuk ekornya.

Selain menekuk ekornya juga bisa menusuk hidungnya misalnya dengan lidi.

"Kalau mengatasi lilitan ular piton cukup ujung ekornya ditekuk supaya lemas atau lubang hidungnya ditusuk lidi, pasti akan lemas. Itu kelemahan ular piton," kata Oka.

Sementara untuk jenis ular berbisa, biasanya memiliki tingkat bisa yang bervariasi.

Ada yang rendah dan tidak berbahaya bagi manusia, ada yang sedang dan ada pula yang berbisa tinggi.

"Kalau dipatuk ular yang memiliki tingkat bisa menengah biasanya kita akan panas dingin, demam seminggu. Namun tergantung imun tubuh juga. Kalau sedang sakit kena gigitan ular lebih baik langsung dibawa ke rumah sakit. Saat sehat terkena bisa menengah tidak sampai mengancam nyawa, paling bengkak seminggu," katanya.

Sementara ular yang beracun seperti king kobra maupun ular hijau ekor merah sangat berbahaya dan menyebabkan kematian.

Lalu bagaimana pertolongan pertama jika mendapat serangan bahkan digigit ular berbisa?

"Kalau jenis berbisa sepert king kobra, disaat digigit kalau bisa jangan panik karena semakin panik racun semakin dipompa jantung dan semakin cepat kerja racun untuk membunuh," katanya.

Kalau bisa usahakan tenang, ikat kuat-kuat di atas daerah yang dipatuk sehingga bisa tak menyebar ke seluruh tubuh.

Setelah itu, segera bawa ke rumah sakit.

Kadek Adi Saputra dari Yayasan Bali Reptile Rescue yang berlokasi di Negara mengatakan, untuk jenis ular berbisa ada beberapa hal yang dilakukan dalam penanganannya.

Ada beberapa jenis efek dari bisa ular.

Ular kobra mengandung neurotoksin yang akan menyerang jantung dan membekukan pembuluh darah.

Sedangkan dalam bisa ular hijau mengandung hemotoksin yang membuat sel darah merah menjadi jel.

Dan pada ular welang bisanya membunuh secara halus dengan melemahkan saraf jantung sehingga akan terserang kantuk hebat.

"Jika dipatuk ular kobra, usahakan setenang mungkin. Karena semakin tenang aliran darah akan melambat. Kemudian ikat pada daerah yang dekat dengan patukan," kata Ady.

Apabila dipatuk ular hijau, ikat sekencang-kencangnya pada tiga titik dengan jarak 2 cm di atas gigitan.

"Intinya tenang, jangan panik sehingga aliran darah melambat. Semakin panik detak jantung semakin kencang dan aliran darah semakin cepat dan berbahaya," katanya.

Penanganan sebelum ke rumah sakit, usahakan gigitan ditaruh di bawah jantung dan jangan digerakkan.

Apabila memungkinkan bisa diberi semacam pen atau kayu untuk meminimalisir gerakan.

Jika digigit pada kaki jangan berjalan sendiri, namun minta teman untuk membopong.

"Intinya penanganannya sama seperti penanganan orang patah tulang. Dan ingat jangan panik. Kemudian bawa ke rumah sakit," katanya.

Sementara itu ada juga jenis ular yang menyembur yaitu kobra, sementara king kobra hanya mematuk.

Jika mata terkena semburan bisa ular jangan dikucek.

Karena semakin dikucek akan menimbulkan iritasi yang bisa membahayakan.

"Kalau kena mata jangan dikucek karena semakin dikucek akan ada goresan luka dan itu menyebabkan bisa masuk ke dalam saraf yang bisa membuat mata jadi buta. Bisa ular bekerja lewat darah," katanya.

Semprot mata dengan air bersih yang mengalir dan jangan menggunakan obat tetes mata karena jika alergi bisa menyebabkan iritasi.

Setelah itu gunakan uap teh tawar hangat.

"Ambil uapnya dan pasti air mata akan menetes. Efeknya mata merah tapi tidak kenapa asal jangan dikucek," paparnya.

Sementara itu, gigitan yang paling berbahaya terjadi jika ular mengigit kepala.

Sehingga dia mengimbau masyarakat untuk selalu menjaga keamanan.

"Safety yang utama. Kalau ke tegalan pakai sepatu boot dan lindungi kepala dengan topi, karena ular hijau biasanya ada di atas. Karena yang sulit menangani gigitan di kepala," katanya.

Adi juga mengatakan bahwa anak ular kobra bisanya lebih berbahaya ketimbang ular kobra dewasa.

"Kalau kobra masih bayi bisanya berbahaya karena belum pernah diinjeks dan risikonya lebih besar. Karena ibaratnya bisanya masih perawan. Penanganannya jika dipatuk tetap diikat, jangan panik, dan jangan bergerak lalu bawa ke rumah sakit," katanya.

(*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved