Warga Protes Keberadaan Makam Pribadi Dekat Pura
Warga Banjar Munduk Tumpeng Kaja mempermasalahkan keberadaan kuburan pribadi di hulu atau daerah bukit desa setempat
Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana | Editor: Irma Budiarti
Nyatanya, hingga saat ini tidak ada wisatawan ke makam itu.
Kata dia, paling-paling hanya pemilik dan keluarganya.
Belum lagi, soal jalan yang akan diperbaiki dan akan membangun jembatan gantung, tidak ada realisasi apapun.
"Cuma janji untuk membantu pembangunan bale tempek yang direaliasikan. Itu pun hanya dibantu Rp 20 juta. Sedangkan untuk pembangunan bale tempek, menghabiskan sampai Rp 68 juta," bebernya.
Makam pribadi itu merupakan makam orangtua warga Surabaya tersebut.
Bukan abu, melainkan ada tengkorak di sana.
Padahal orangtua warga Surabaya itu berasal dari Sangsit Buleleng, namun malah dimakamkan di Desa Brangbang.
Bulan lalu, kata dia, ada kejadian niskala.
Seorang ibu-ibu pemanen cengkih kesurupan.
"Yang kerauhan itu seperti bahasa Mandarin. Setelah ditanya-tanya, katanya itu roh dari yang dimakamkan di sini, tidak tenang dihukum Ida Bhatara di Pura Beranbang Agung sama Bhatari Danu di Pura Subak, karena tidak ada matur piuning dan macaru. Akhirnya dibuatkan upakara, baru dapat tenang," jelasnya.
Mantan Perbekel Berangbang, I Gusti Putu Supradnya, mengatakan, bangunan itu hanya persemayaman.
Dibangun di tanah pribadi dan merupakan tempat ibadah.
Pihaknya juga sudah melakukan sosialisasi ke penyanding dan tidak ada masalah apapun.
"Memang harapannya akan menjadi objek wisata. Dan memang akan ada rencana membuat jembatan. Tapi belum ada saat ini," ujarnya.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/lokasi-makam-pribadi-yang-berada-di-hulu-desa-berangbang-kecamatan-negara-jumat-2092019.jpg)