Dharma Wacana

Penunggun Karang Tidak Disembah, Begini Pandangan Ida Pandita 

Dalam konsep agama Hindu, ketika suatu ruangan telah melalui proses konstruksi penyucian, dia akan disebut sebagai mandala.

Penunggun Karang Tidak Disembah, Begini Pandangan Ida Pandita 
Tribun Bali/ I Putu Darmendra
Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda 

Oleh Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda

TRIBUN-BALI.COM, -- Dalam konsep agama Hindu, ketika suatu ruangan telah melalui proses konstruksi penyucian, dia akan disebut sebagai mandala.

Karena itu, rumah tinggal atau hunian orang Hindu di Bali disebut dengan mandala yang dibagi menjadi tiga ruang.

Ketiga ruang itu terdiri dari ruang atas (utama), ruang tengah (madya) dan ruang bawah (nista). Di ruang atas merupakan tempat Tuhan dalam bentuk merajan atau sanggah.

Di ruang tengah adalah tempat tinggal manusia (pawongan), sementara di bawah adalah palemahan.

Kenapa Pelinggih Penunggun Karang berada di bagian nista mandala?

Sebelum membahas itu, kita harus memahami bahwa ketiga zona ini memiliki tiga penguasaan, yakni dewa, manusa dan bhuta.

Dalam hal ini, Penunggun Karang sesungguhnya adalah penguasa yang menjaga wilayah palemahan (lingkungan).

Jika melihat sistem pembagian mandala, selain (Penunggun Karang) menjadi bagian dari tiga zona tersebut, dia juga termasuk dalam zona vertikal dan horizontal.

Dalam hal ini, Penunggun Karang berada di wilayah bawah (nista).

Halaman
123
Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved