Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Koleksi Bersejarah Museum Gunarsa, Simpan Patung Singa Pendiri Kerajaan Buleleng

Siang kemarin di Dusun Banda, Desa Takmung, Klungkung, beberapa pengunjung tampak melihat berbagai koleksi di museum yang didirikan tahun 1993 silam

Tayang:
Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Ady Sucipto
Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Patung singa peninggalan Gusti Ngurah Panji Sakti, Selasa (1/10/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, KLUNGKUNG -- Genap dua tahun sudah, Maestro lukis I Nyoman Gunarsa berpulang.

Almarhum meninggalkan warisan museum yang kini dikelola oleh sang istri, Indrawati Gunarsa. Bagaimanakah kondisi museum Gunarsa saat ini?

Siang kemarin di Dusun Banda, Desa Takmung, Klungkung, beberapa pengunjung tampak melihat berbagai koleksi di museum yang didirikan tahun 1993 silam itu.

Nuansa di lobi museum, tidak banyak berubah dibandingkan ketika maestro Gunarsa masih hidup.

Lobi itu masih dipenuhi sengan barang-barang antik seperti pintu, patung yang berusia berabad-abad silam.

Bahkan  beberapa minitur patung Ida I Dewa Istri Kanya dan Ida I Dewa Agung Jambe yang terpajang gagah di loby,  tampak sudah agak bersih dan tertata rapi.

"Saat almarhum Gunarsa masih hidup, semuanya beliau yang mengurus museum. Saya hanya bertugas mengontrol kesehatan beliau. Beliau sudah berpulang, dan saya yang harus meneruskan cita-cita beliau melestarikan berbagai barang peninggalan sejara," ujar Indrawati, Selasa (1/10)

Selama ini, Museum Gunarsa tidak hanya dikenal dengan seni lukisnya.

Namun juga menyimpan berbagai peninggalan bersejarah yang menjadi akar kebudayaan Bali.

Sejak muda, Gunarsa dan istrinya sudah terkenal sebagai pemburu barang-barang bersejarah.

"Kami berdua berjuang mengumpulkan semua benda-benda bersejarah ini. Semua yang kami kumpulkan merupakan karya seni dari semua kerajaan di Bali," ungkapnya.

Ia menunjukan beberapa benda bersejarah yang dikumpulkan bersmaa suaminya.

Langkahnya terhenti di depan sebuah lemari kaca. Berlahan ia membuka lemari kaca itu, dan menunjukkan sebuah patung singa.

" Patung singa ini merupakan peninggalan kerajaan Buleleng. Patung ini peninggalan Gusti Ngurah Panji Sakti, pendiri kerajaan Buleleng," ujar Indrawati Gunarsa.

Patung singa itu terbuat dari kayu nangka dengan warna kilaunya yang tampak memudar. Meski sudah sangat tua, namun bentuk patung masih cukup baik.

Ukirannya terlihat khas Bali Utara.

Bentuknya agak berbeda, dari patung Singa Ambara Raja yang selama ini menjadi ikon Kota Singaraja. Karya seni tersebut diperkirakan dibuat sekitar abad ke-16.

"Dulu saya mendapatkannya ini membeli, dari seseorang di Puri Buleleng. Mendapatkannya pun penuh perjuangan karena harus bersaing dengan kolektor-kolektor dari seluruh dunia," ungkapnya.

Tidak hanya itu, Museum Gunarsa juga menyimpan koleksi seperangkat wayang dari massa Kerajaan Majapahit.

Hidung dari wayang kulit tersebut berlapis emas, dan merupakan pemberian dari Raja Majapahit, Tribhuna Wijayatunggadewi kepada raja di Bali dan sempat disimpan oleh raja di Kerajaan Gelgel.

Wayang Kulit tersebut didapatkannya dari keturunan Dalang Buricek di Gelgel. Ia membeli benda pusaka tersebut seharga Rp 150 juta pada tahun 1990.

Selain itu ada juga ider-ider (kain) sepanjang 30 meter bermotif seni lukis klasik Kamasan.

Ider-ider tersebut didapatnya di Pura Bale Batur Kamasan dan dibuat pada abad ke 17-18 Masehi.

Bahkan koleksi-koleksi masterpiece tersebut dan beberapa barang pusaka lainnya di Museum Gunarsa sempat diwacanakan menjadi cagar budaya dan warisan budaya dunia oleh Unesco.

"Saya membutuhkan dukungan moril dari masyarkaat untuk dapat meneruskan cita-cita alamahum Nyoman Gunarsa dalam menjaga karya seni bersejarah ini. Karya seni ini merupakan akar dari kebudayaan kita dan harus dilestarikan sebagai jati diri masyarakat Bali," ujarnya. (*) 

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved