Inseminasi Buatan Genjot Populasi Sapi di Bangli, Jumlahnya Diperkirakan Naik Jadi 30 Ribu Ekor

Untuk menggenjot populasi sapi di Bangli, dokter hewan asal Rendang, Karangasem ini melakukan metode inseminasi buatan (IB).

Inseminasi Buatan Genjot Populasi Sapi di Bangli, Jumlahnya Diperkirakan Naik Jadi 30 Ribu Ekor
Tribun Bali/Fredey Mercury
Peternakan sapi di wilayah Dusun Tanggahan, Susut, Bangli, Senin (7/10/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Sempat anjlok dua tahun lalu, populasi sapi di Bangli terus digenjot agar meningkat.

Tahun ini, jumlah populasi sapi di Bangli bahkan diasumsikan menjadi 30 ribu ekor lebih.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (PKP) Bangli, Ni Nyoman Sri Rahayu, Senin (7/10/2019) menjelaskan, jumlah populasi sapi pada tahun 2016 ke 2017 anjlok dari 30.953 ekor menjadi 26.429 ekor.

Namun demikian, jumlah populasi sapi berangsur meningkat pada tahun 2018 yang jumlahnya mencapai 28.489 ekor.

“Penurunan ini dikarenakan musibah Gunung Agung, saat itu banyak peternak Bangli yang menjual sapinya karena khawatir tidak bisa mencari pakan ternak,” jelasnya.

Sri Rahayu membenarkan, tahun ini pihaknya tengah menggenjot jumlah populasi sapi. Walaupun peningkatan ditarget 1 persen, estimasi jumlah populasi sapi diperkirakan mampu melampaui target.

Hanya saja ia enggan menyebutkan berapa jumlah populasi sapi pada tahun berjalan.

“Kalau jumlahnya masih dalam pendataan. Karena nantinya pada akhir tahun juga perlu diverifikasi. Namun jika mengacu dari jumlah populasi 2018 sebanayk 28 ribu lebih, hingga akhir tahun 2019 diperkirakan mampu mencapai 30 ribu ekor,” ucapnya.

Untuk menggenjot populasi sapi di Bangli, dokter hewan asal Rendang, Karangasem ini melakukan metode inseminasi buatan (IB).

Dalam metode ini, pihaknya ditargetkan 7000 dosis oleh Dinas Peternakan Provinsi Bali.

Sri Rahayu menegaskan satu dosis itu semestinya digunakan untuk satu ekor sapi. Kendati demikian perkawinan tidak selalu berjalan mulus, sehingga satu ekor sapi terkadang mendapatkan dua dosis.

“Ada kemungkinan gagal pada IB pertama, sehingga perlu dilakukan IB kedua. Dari metode ini, kami harapkan 80 persen menjadi kelahiran baru,” katanya.

Sasaran IB, kata dia, mengarah pada sapi betina produktif dengan usia 2 tahun hingga 8 tahun.

Saat ini jumlah sapi betina dewasa usia 2-4 tahun sebanyak 6.962 ekor, usia 5-6 tahun sebanyak 5.092 ekor, dan usia lebih dari 6 tahun sebanyak 3.684 ekor.  

“Walaupun ada penambahan, tentunya ada pula pengurangan jumlah indukan. Ini disebabkan karena kelainan reproduksi (mandul), maupun penjualan sapi karena telah memasuki masa tidak produktif (upkir). Hingga kini untuk IB sudah terealisasi sebanyak 5 ribu dosis. Karena untuk melakukan inseminasi, tergantung juga dari siklus birahi sapinya,” tandas dia. (*)

Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved