Garam Amed, Sarana Pembayaran Retribusi di Zaman Kerajaan

Pada masa kerajaan di Karangasem, warga secara khusus diminta mempersembahkan garam amed sebagai alat pembayaran retribusi ke kerajaan

Garam Amed, Sarana Pembayaran Retribusi di Zaman Kerajaan
Tribun Bali/Saiful Rohim
Proses pembuatan garam amed 

TRIBUN-BALI.COM, KARANGASEM - Banjar Lebah, Desa Purwakerti, Kecamatan Abang memiliki berbagai potensi kerajinan, budidaya, dan pariwisata.

Dari beberapa potensi tersebut, yang paling dikenal wisatawan adalah pembuatan garam amed yang digeluti warga sejak abad ke 15.

Kelian Adat Lebah, Nengah Suanda menjelaskan, garam amed adalah garam murni hasil kerajinan warga di Banjar Lebah.

Karajinan membuat garam amed merupakan warisan leluhur secara tuurun-temurun dari abad ke 15.

Bentuk garam khas dan kualitasnya tinggi. Warnanya putih dan berukuran kecil.

"Pada masa kerajaan di Karangasem, warga secara khusus diminta mempersembahkan garam amed sebagai alat pembayaran retribusi ke kerajaan karena mudah larut dan memberi rasa asin yang mudah hilang tanpa rasa pahit," kata Nengah Suanda.

Ditambahkan, garam amed memang dikenal sejak zaman kerajaan hingga saat ini.

54 Petugas Rutan Kelas II B Negara Jalani Tes Urine

Persiapan Panjang Bali United Lawan Borneo FC, Taufiq: Mereka Kuat di Kandang Tak Pernah Kalah

Proses pembuatan mengunakan alat tradisional dari awal hingga akhir.

Kata Nengah Suanda, garam amed dikenal sampai Eropa, seperti Perancis, Jerman, dan Italia.

Direktorat Jendral Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM memberikan sertifikat indikasi geografis (IG) atas melegendanya garam amed.

Halaman
123
Penulis: Saiful Rohim
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved