Belum Siap Menjadi Lelaki, Putri Natasiya Batal Jadi Ahmad, Hakim Langsung Tutup Persidangan

Putri Natasiya (19) batal mengganti kelamin dan mengubah identitasnya menjadi laki-laki lewat operasi ganti kelamin

Belum Siap Menjadi Lelaki, Putri Natasiya Batal Jadi Ahmad, Hakim Langsung Tutup Persidangan
Suara.com
Kuasa hukum Putri Natasiya, Irwan Santoso SH menunjukkan surat kuasa permintaan kliennya untuk pembatalan penetapan perubahan status kelamin.

TRIBUN-BALI.COM - Putri Natasiya (19) batal mengganti kelamin dan mengubah identitasnya menjadi laki-laki lewat operasi ganti kelamin setelah resmi mencabut permohonan yang sebelumnya telah diajukan ke Pengadilan Negeri Surabaya, Jawa Timur.

Terkait hal itu, Majelis Hakim diketuai Sigit Sutriyono resmi menghentikan sidang tersebut pada Rabu (20/11/2019).

Dalam persidangan, Irwan Hadi selaku kuasa hukum pemohon menyatakan mencabut permohonan yang diajukan Putri Natasiya lantaran belum siap dengan bukti bukti dan saksi saksi yang dihadirkan dalam pembuktian di persidangan yang ke empat ini.

“Karena permohonan yang diajukan bersifat prinsip serta belum lengkapnya bukti-bukti dan saksi-saksi yang mendukung permohonan pemohon. Maka kami selaku kuasa hukum pemohon dengan ini mencabut perkara permohonan nomor 1768/Pdt.P/2019/PN.Sby dan untuk selanjutnya kami mohon agar dikeluarkan penetapan pencabutan perkara permohonan tersebut,” kata Irwan seperti dikutip Beritajatim.com, Kamis (21/11/2019).

Atas permohonan tersebut, Sigit Sutriono selaku hakim tunggal pemeriksa permohonan ganti kelamin ini langsung mengabulkan pencabutan tersebut.

"Dengan demikian, perkara ini tidak perlu dilanjutkan lagi, karena sudah dicabut," kata hakim sembari menutup sidang.

Seusai persidangan, Sigit Sutriono menjelaskan alasannya yang mengabulkan pencabutan permohonan ganti kelamin tersebut.

"Yang jelas pemohon belum siap melanjutkan ke pembuktian, kesulitan untuk menghadirkan saksi-saksi dan bukti bukti. Karena ini permohonan, sewaktu waktu bisa dicabut dan bisa mengajukan ulang," katanya.

Diberitakan sebelumnya, permohonan ganti kelamin ini dikarenakan Putri Natasiya memiliki kelamin ganda.

Saat dilahirkan, Putri berkelamin perempuan, namun seiring waktu mulai ada perubahan diri dan fisik dari PN.

Organ wanitanya tidak berkembang selayaknya. Justru organ prianya yang lebih berkembang.

Salam sehat. Gondongan ternyata dapat menginfeksi testis pria.

Kondisi ini disebut juga nyeri testis atau dengan istilah lain yaitu orkitis.

Menurut medis orkitis adalah sebuah kondisi peradangan yang bisa terjadi pada salah satu atau kedua testis sekaligus.

Hal ini bisa terjadi dikarenakan tidak pernah divaksin MMR, melakukan hubungan seksual dengan penderita penyakit menular seksual, berganti – ganti pasangan. 

Sebuah kiriman dibagikan oleh GridHEALTH (@gridhealth_id) pada 11 Nov 2019 jam 3:08 PST

Selain meminta penetapan sebagai laki-laki, Putri Natasiya juga meminta pengadilan untuk mengganti namanya menjadi Ahmad Putra Adinata.

Bila memutuskan ganti kelamin lewat operasi ganti kelamin, tentunya Putri Natasiya akan menghadapi tindakan medis dengan risiko efek samping yang besar, yang tidak hanya berlangsung selama masa pemulihan, tapi juga bisa berlangsung seumur hidup.

Ini sebabnya setiap orang yang hendak menjalani operasi ganti kelamin harus benar-benar siap dengan segala hasil maupun risikonya.

Asal tahu saja, operasi ganti kelamin tidak hanya dilakukan dalam sekali waktu.

Pasien harus menjalani terapi hormon dahulu sebelum menjalani operasi.

Karenanya, dampak yang dialami pasien tidak hanya terbatas pada komplikasi setelah prosedur ini dijalankan.

Peninjauan dilakukan lebih dari 100 penelitian medis internasional dari operasi ganti kelamin oleh fasilitas intelijen penelitian Agressive Research Intelligence Facility (ARIF) University of Birmingham.

Hasilnya operasi tidak menemukan bukti ilmiah yang kuat bahwa operasi ganti kelamin secara klinis efektif terhadap kelangsungan hidup pasiennya.

Beberapa orang menyesali perubahan organ intimnya, percaya bahwa perawatan medis yang mereka terima gagal untuk kehidupan baru yang mereka pilih.

Dikutip dari WebMD, Hallo Sehat dan dari dokterspkk.com, berikut beberapa dampak dari operasi ganti kelamin;

1. Infeksi dan perdarahan pasca operasi

Saat operasi, dokter akan membuat banyak sayatan pada penis atau vagina. Proses tersebut berisiko melukai pembuluh darah dan menyebabkan perdarahan dalam jumlah banyak.

Luka operasi juga rentan terinfeksi oleh bakteri, terutama dari jenis staph.

Pada kasus yang parah, infeksi dapat menyebar ke aliran darah dan menyebabkan sepsis. Sepsis yang tidak ditangani dengan tepat berisiko mengakibatkan kegagalan organ.

2. Infeksi saluran kemih (ISK)

Mengingat operasi dilakukan pada alat kelamin, ada kemungkinan bagi bakteri untuk menyebar ke saluran kemih. Hal ini sejalan dengan sebuah survei jangka panjang yang dimuat dalam kongres PRS Global Open tahun 2016.

Beberapa pasien operasi ganti kelamin ternyata mengalami efek samping yang menyerupai gejala ISK. Di antaranya nyeri panggul, aliran urine yang lemah, susah buang air kecil, dan sering buang air kecil pada malam hari.

3. Berkurangnya kepuasan dari hubungan seksual

Meski operasi ganti kelamin telah dilakukan sedemikian rupa untuk membuat bentuk organ intim menyerupai aslinya, hasilnya tentu tidak akan sesempurna organ genitalnya yang asli.

Orang-orang yang melakukan operasi ini biasanya akan merasakan efek samping berupa berkurangnya kenikmatan seksual jika dibandingkan dengan sebelum mereka melakukan operasi kelamin.

4. Masalah kesehatan terkait perubahan hormon

Sekitar satu tahun sebelum operasi, pasien akan menjalani terapi hormon. Laki-laki yang ingin menjalani operasi transgender perlu menempuh terapi estrogen untuk memunculkan ciri reproduksi feminin.

Sementara itu, perempuan yang ingin menjalani prosedur ini akan mendapatkan prosedur testosteron guna mendapatkan efek sebaliknya.

Kedua hormon ini tidak luput dari efek samping. Terapi estrogen bisa meningkatkan risiko pembentukan gumpalan darah pada paru-paru dan pembuluh darah di area kaki.

Kondisi ini tentu dapat memicu komplikasi saat pelaksanaan operasi.

Sementara itu, terapi testosteron bisa meningkatkan tekanan darah, penurunan respons tubuh terhadap insulin, dan perubahan abnormal pada jaringan lemak.

Perubahan ini tentu memicu peluang munculnya obesitas, hipertensi, serta diabetes di kemudian hari.

5. Masalah psikologis yang bisa berujung keinginan bunuh diri

Direktur ARIF, Chris Hyde, mengatakan, ada ketidakpastian tentang apakah mengubah organ intim seseorang adalah hal yang baik atau buruk.

"Masih ada sejumlah besar orang-orang yang menjalani operasi ganti kelamin tetapi tetap trauma, sering sampai pada titik melakukan bunuh diri," katanya.

ARIF yang memberi saran kepada NHS di West Midlands tentang bukti perawatan kesehatan, menemukan bahwa sebagian besar penelitian medis tentang pergantian organ intim tidak dirancang dengan baik.

Dilansir dari The Guardian, Dr Hyde menjelaskan bahwa ada tingkat ketidakpuasan yang tinggi atau bahkan bunuh diri di antara para waria setelah operasi ganti kelamin.

Penelitian dari AS dan Belanda menunjukkan bahwa hingga seperlima pasien menyesali perubahan organ intim.

Tinjauan tahun 1998 oleh Direktorat Penelitian dan Pengembangan Eksekutif NHS menemukan bahwa percobaan bunuh diri mencapai hingga 18% yang dicatat dalam beberapa studi medis tentang kasus perubahan gender.

Stigma negatif, diskriminasi, dan prasangka dari orang lain juga turut memperburuk kondisi psikologis pasien. Akibatnya, pasien menjadi rentan terhadap gangguan kecemasan, depresi, dan trauma pasca kejadian traumatis.

Menjalani operasi ganti kelamin merupakan suatu langkah yang besar dalam hidup. Pasien harus memiliki pemahaman menyeluruh terkait prosedur operasi, terapi hormon, risiko, serta berbagai komplikasi yang dapat terjadi.

Oleh sebab itu, tahapan sebelum melakukan operasi kelamin sangatlah panjang, mulai penilaian kesehatan mental, pencatatan terhadap perilaku sehari-hari, serta ‘tes’ dalam kehidupan nyata.

Tes bertujuan memastikan pasien benar-benar ingin mengubah peran gender dan alat kelaminnya, termasuk siap menghadapi dampak yang akan dihadapi sesudahnya, baik secara fisik maupun mental. (*)

Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Grid.ID
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved