Supported Content

Devvi Pasca Melahirkan: Mudahnya Mengakses Pelayanan JKN-KIS Semudah Membayar Iurannya

Devvi Pasca Melahirkan: Mudahnya Mengakses Pelayanan JKN-KIS Semudah Membayar Iurannya

Devvi Pasca Melahirkan: Mudahnya Mengakses Pelayanan JKN-KIS Semudah Membayar Iurannya
BPJS KESEHATAN
Devvi Pasca Melahirkan: Mudahnya Mengakses Pelayanan JKN-KIS Semudah Membayar Iurannya 

TRIBUN-BALI.COM- “Nikmat JKN-KIS mana lagi yang akan kau dustai”. Mungkin ungkapan tersebut cocok dengan apa yang disampaikan oleh Dewa Ayu Devvi Apriliasandi (24). Peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) yang merasa bangga setelah sekian lama menjadi peserta JKN-KIS hingga akhirnya pernah merasakan manfaat luar biasa program ini saat melahirkan anak pertama. Perasaannya sebelum melahirkan dan setelahnya tetap sama, ia selalu merasakan program ini begitu bermanfaat dan sangat memudahkan pesertanya, baik dalam memenuhi kewajiban membayar iuran maupun memperoleh hak pelayanan kesehatan.

Menurut wanita yang diperistri oleh I Nyoman Suadnyana Sandi (28) asal Nusa Penida ini, program JKN-KIS seharusnya disyukuri keberadaannya, apalagi telah banyak orang yang merasa terbantu oleh program JKN-KIS, bukan hanya soal pembiayaan namun juga nyawa akrena kembali sehat. Tak terkecuali orang yang sebenarnya mampu dalam hal ekonomi, mereka tetap saja bergantung kepada program JKN-KIS karena tidak mampu menghadapi pembiayaan kesehatan yang begitu besar dan mengancam perekonomiannya.

“Dulu saya bekerja dan kepesertaan ditanggung pemberi kerja. Ketika melahirkan saya sudah berhenti bekerja, namun bukan berarti saya berhenti menjadi peserta JKN-KIS, saya tidak mau menyia-nyiakan program yang luar biasa ini. Saya mendaftarkan diri walaupun harus bayar sendiri karena saya tidak mau kehilangan kesempatan untuk ikut bergotong-royong dengan masyarakat seluruh Indonesia. Saya juga telah membuktikan sendiri kemudahan dari program ini mulai dari pengurusan administrasi, pembayaran iuran, dan akses pelayanannya yang memberikan saya kenyamanan saat saya melahirkan,” ungkap Devvi, sapaan akrabnya.

Sekarang ia ditanggung oleh suaminya namun orangtuanya masih terdaftar sebagai Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) atau yang iurannya dibayarkan secara mandiri. Ia masih rutin membayarkan iuran orangtuanya sehingga ia tahu bagaimana mekanismenya yang dikatakannya tadi sangat mudah dan semakin mudah.

“Dulu saya membayar iuran dengan banyak pilihan, kadang lewat bank, ATM, maupun jaringan pembayaran lainnya, sedangkan kini saya langsung dipotong dari rekening bank saya sendiri, kemudahan ini yang menurut saya harusnya tidak dikeluhkan oleh peserta secara mengada-ada, termasuk juga berkaitan dengan akses pelayanannya. Saat saya melahirkan saya dirujuk secara online ke sebuah rumah sakit swasta di Kabupaten Gianyar, pelayanan yang saya dapat begitu cepat dan saya melahirkan secara lancar,” ceritanya.

Dengan pengalamannya tersebut, ia merasa pantas berharap kepada seluruh masyarakat agar mendukung program pemerintah seperti ini, jika hanya mengeluh maka hal negatif saja yang akan dirasakan, tetapi jika telah mengikuti semua kebijakan maka akan mendapatkan jalan yang mulus. Hak yang diperoleh cenderung sama dengan kewajiban yang dipenuhi, iuran yang dibayarkan peserta tidak pernah terbuang sia-sia karena nantinya akan dimanfaatkan kalau tidak oleh kita sendiri maka akan sangat membantu orang lain yang lebih membutuhkan. (ADV)

Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved