Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

In Memoriam Ir Ciputra, Sosok Inspiratif yang Meniti Karir dari Keluarga Tak Punya

Namun, Rabu 27 November 2019 dini hari waktu Singapura, kabar duka menyelimuti keluarga besar founder Ciptura Grup.

Tayang:
Editor: Ady Sucipto
YouTube/Jaya Suprana Show
Pemilik perusahaan Ciputra Grup, Ir. Ciputra atau Tjie Tjin Hoan saat diwawancari Jaya Suprana. 

TRIBUN-BALI.COM - Kiprah Ir Ciputra yang dikenal sebagai pengusaha properti terkemuka di Indonesia sudah tak diragukan lagi, seperti Ciputra Grup dan beberapa anak usahanya yang kini sukses merajai bisnis properti di Tanah Air. 

Namun, Rabu 27 November 2019 dini hari waktu Singapura, kabar duka menyelimuti keluarga besar founder Ciptura Group. 

Sosok Ir Ciputra dikabarkan telah tutup usia di Singapura pada pukul 01.15 waktu setempat. 

Dalam pesan singkat yang tiba di redaksi Kontan, Ciputra meninggal dunia di Singapura pada pukul 27 November 2019 pukul 01.05 waktu setempat.

"Telah meninggal dunia dengan tenang, Bapak Ir Ciputra, Chairman dan Founder Ciputra Group di Singapore pada tanggal 27 November 2019 pukul 01.05 waktu Singapore.

Kami keluarga besar Ciputra Group mengucapkan turut berduka yang mendalam dan mendoakan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan menghadapi kedukaan ini," demikian pesan singkat dari Rina Ciputra Sastrawinata yang merupakan anak pertama Ciputra.

Kisah Pendiri Ciputra Grup

Dikenal sebagai pengusaha properti terkemuka di Indonesia, Ir Ciputra atau Tjie Tjin Hoan adalah sosok yang meniti karir dari bawah.

Hal itu diungkapkan oleh Ir Ciputra saat menceritakan perjuangannya dalam mencapai kesuksesan dalam bisnis yang digelutinya pada acara 'Jaya Suprana Show: Ciputra-Legenda Hidup' yang diunggah di YouTube, Senin (1/10/2018).

Ciputra mengatakan, kisah suksesnya sudah tertulis dalam buku berjudul 'Ciputra: The Entrepreneur - Passion of My Life Ciputra'.

Pria kelahiran Parigi, Sulawesi Utara ini pun menceritakan bagaimana kehidupan masa kecilnya yang dididik dalam sekolah Belanda.

"Umur 6 tahun dikirim oleh ayah dan ibu saya untuk bersekolah di Kota Gorontalo. Sebab di Parigi itu tidak ada sekolah Belanda, di Gorontalo ada sekolah Belanda," kata Ciputra.

"Tapi saya dari kelas 2 ke 3 tertinggal kelas. Saya bahasa Belanda dapat angkat 4."

"Saya malas belajar bahasa Belanda, karena di rumah tidak memakai bahasa Belanda, kenapa saya harus belajar."

"Ketika saya belajar bahasa Belanda saya tertidur, dapat angkat 4," ujar Ciputra.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved