Tarif Angkutan Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk akan Naik 10,16% Per 1 Desember 2019

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan menaikkan tarif angkutan penyeberangan di 20 lintas penyeberangan mulai 1 Desember 2019 mendatang.

Tarif Angkutan Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk akan Naik  10,16% Per 1 Desember 2019
TRIBUN BALI
PENYEBERANGAN - Aktivitas penyeberangan Gilimanuk, Bali, Jumat (29/11/2019). Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan menaikkan tarif angkutan penyeberangan di 20 lintas penyeberangan mulai 1 Desember 2019 mendatang, secara rata-rata tarif penyeberangan akan naik sebesar 10,16 persen. 

TRIBUN-BALI.COM, JEMBRANA - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan menaikkan tarif angkutan penyeberangan di 20 lintas penyeberangan mulai 1 Desember 2019 mendatang. Salah-satunya ialah kenaikan tarif untuk penyeberangan Ketapang-Gilimanuk.

Rencana kenaikan tarif ini telah mempertimbangkan pelbagai aspek keekonomian sebagaimana disampaikan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Budi Setiyadi. Secara rata-rata, tarif penyeberangan akan naik sebesar 10,16 persen.

General Manager ASDP Ketapang, Fahmi Alweni, memastikan bahwa belum ada peraturan menteri atau instruksi kenaikan tarif tersebut sehingga, pihaknya belum dapat berkomentar lebih jauh menyoal hal tersebut. Meskipun, ASDP Cabang Ketapang-Gilimanuk juga akan menerapkannya bila sudah ada kepastian.

"Sampai sekarang kami belum menerima instruksi," ucap Fahmi, Jumat (29/11/2019).

Menurutnya, kenaikan tarif itu tidak bisa sekonyong-konyong mulai diterapkan. Terutama rencana yang disampaikan pusat, akan naik pada (1/12/2019) mendatang. Ketika turun instruksi, ASDP berkewajiban untuk melakukan sosialisasi terlebih dulu. Apalagi saat ini seluruh golongan kendaraan sudah menerapkan pembayaran tiket menggunakan uang elektronik (cashless).

"Kami masih menunggu dari Kementerian. Kalau sudah ada instruksi dan peraturan menteri, kami akan lakukan sosialisasi dulu," jelasnya.

Ia menegaskan, sosialisasi itu penting dikarenakan itu mengikuti kebijakan penggunaan uang elektronik, yang sebelumnya sudah diterapkan. Dan penerapan itu akan dilakukan bertahap. Mulai dari sosialisasi dan uji coba untuk penumpang pejalan kaki terlebih dahulu. Kemudian, beranjak pada semua golongan kendaraan.
"Pastinya akan bertahap untuk kenaikan itu," ungkapnya.

Terpisah, Ketua DPC  Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) Banyuwangi, I Putu Gede Widiana mengatakan, tarif penyeberangan belum pernah mengalami kenaikan, justru malah terjadi penurunan karena menyesuaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

“Dari sisi kami (Gapasdap), tentu sangat kami harapkan sekali penyesuaian tarif ini. Situasi sekarang berat, untuk docking saja sulit," jelasnya.

Ia menambahkan, bahwa operasional pelayaran seperti biaya sparepart kapal, docking bahkan hingga gaji pegawai mengalami kenaikan menyesuaikan Upah Minimum. Sementara tarif masih tetap dan hal ini sudah lama terjadi.

Pengelola PT Putera Master ini mencontohkan untuk tarif tiket penyeberangan penumpang (orang) Rp 6.000, biaya pelayaran hanya Rp 2.600. Sisanya merupakan gabungan biaya lainnya seperti asuransi dan lain-lain. Dengan adanya penyesuaian tarif, diharapkan bisa memberikan harapan mengatasi operasional pelayaran yang terus mengalami peningkatan. (ang)

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana
Editor: Ni Ketut Sudiani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved