95 Persen Sampah Adalah Uang, Robi Navicula: Sangat Primitif Jika Membuang Uang ke TPA

Menurut Robi, sampah yang terbuang hanya residu sebesar 5%, sedangkan 95 persennya adalah uang. Akan menjadi sangat primitif jika buang uang ke TPA

TRIBUN BALI/ I PUTU SUPARTIKA
Konferensi pers Serial Pulau Plastik, Selasa (3/12/2019 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Vocalis Band Navicula, Gede Robi mengatakan, masalah sampah akan bisa terselesaikan jika pengolahannya dimulai dari tingkat terbawah yaitu tingkat rumah tangga.

Ia mencontohkan dirinya sendiri.

Untuk masalah sampah utamanya sampah organik bisa terselesaikan di rumahnya.

Sehingga tak perlu membawa sampah organik ini keluar rumah.

"Mau nggak mau, pengolahan sampah memang harus dikelola dengan melakukan manajemen yang tepat. Semakin kecil tempat memulainya maka akan mudah terselesaikan, dan runah tangga adalah tingkatan paling kecil. Jika semua rumah tangga bisa menyelesaikannya, maka masalah sampah akan bisa teratasi," katanya dalam konferensi pers Serial Pulau Plastik, Selasa (3/12/2019) sore.

Ia menambahkan dengan adanya regulasi saat ini tak ada alasan lagi berkonflik karena masalah sampah.

Apalagi desa sudah mendapat dana desa dan ada alokasi untuk melakukan pengelolaan sampah.

"Desa sudah ada dana desa, regulasi sudah ada, tidak ada alasan lagi untuk konflik karena masalah sampah. Kalau sekarang konflik ya apakah pantas disebut sebagai masyarakat beradab," kata Robi Navicula.

Menurut Robi, sampah yang terbuang hanya residu sebesar 5 persen, sedangkan 95 persennya adalah uang.

Akan menjadi sangat primitif jika masyarakat membuang uang ke TPA.

Kampanye Kolaboratif Tangani Plastik Sekali Pakai,4 Serial Pulau Plastik Diluncurkan di Pasar Badung

Diluncurkan 6 Desember Mendatang di Pasar Badung, Ini Hal yang Diangkat pada 4 Serial Pulau Plastik

"70 persen dari sampah ini merupakan sampah anorganik yang bisa diolah jadi pupuk. Saatnya eda ngaden awak bisa (jangan mengaku bisa) kita tinggalkan. Itu buatan Belanda agar kita tidak ngapa-ngapain," katanya.

Sementara Suzy Hutomo dari The Body Shop Indonesia mengatakan untuk menyelesaikan masalah sampah plastik seseorang harus kreatif.

Selain itu tak melakukan pembakaran sampah karena mengandung zat berbahaya serta mau mengeluarkan uang untuk pengangkutan residu.

"Kalau tiga hal ini dikuasai apapun regulasi yang ada pasti bisa berjalan," katanya.

Sulinggih milenial, Ida Mas Dalem Segara menambahkan, saat ini penggunaan kantong plastik saat ke pura sudah mulai berkurang.

Hal ini terlihat di beberapa pura seperti Pura Jagatnata Denpasar dan juga Pura Besakih.

"Sembahyang pikiran kita harus bersih, bagaimana bisa pikiran itu bisa menjadi bersih kalau di sekeliling masih ada sampah," katanya.

Dengan menggunakan keben sebagai wadah banten, justru akan memperlihatkan keunikan Bali yang sudah ada sejak dulu daripada menggunakan plastik. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved