Bali United
Jalan Panjang Bali United, Lahir dari Rahim Putra Samarinda dan Besar dari Mimpi Manchester
Di bawah asuhan pelatih Stefano Cugurra Teco, Bali United menjelma menjadi tim yang menakutkan.
Penulis: Widyartha Suryawan | Editor: Huda Miftachul Huda
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Jalan terjal, keras bahkan berbatu harus dilalui Bali United untuk menjinakkan kerasnya kompetisi liga kasta tertinggi sepakbola Indonesia musim 2019 ini.
Pecat pelatih, kerusuhan supporter hingga buruknya manejemen banyak menjangkiti klub-klub Liga 1 Indonesia.
Tidak terhitung jumlahnya berapa klub harus ganti pelatih di tengah jalan, bahkan sampai 3 pelatih dalam satu tim juga mewarnai Liga 1 Indonesia 2019.
Beruntung masalah kronis dalam sepakbola Indonesia seperti gaji pemain telat serta kerusuhan suporter itu tidak terjadi di Bali United.
Di bawah asuhan pelatih Stefano Cugurra Teco, Bali United menjelma menjadi tim yang menakutkan.
Dengan sentuhan tangan dinginnya, Bali United menjadi juara Liga 1 Indonesia tahun 2019.
• Stadion Ngurah Rai Denpasar Tak Masuk Standar Bali United di Piala AFC 2020, Perlu Investor
• Hasil Drawing Piala AFC 2020 - Bali United Satu Grup dengan Ceres Negros, Ini Daftar Pembagiannya
Bali United memastikan gelar juara Liga 1 Indonesia 2019 setelah mengalahkan tuan rumah Semen Padang 2-0 pada pekan ke-30 di Stadion Haji Agus Salim, Padang, Sumatera Barat, Senin (2/12/2019).
Bagaimana perjalanan Bali United dalam kancah sepak bola nasional?
Lahir dari Rahim Putra Samarinda
Bali United bermarkas di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali.
Tim ini didirikan pada tahun 1989 dengan nama Putra Samarinda.
Dari tahun 2001 sampai 2006, tim ini bermain di divisi pertama sebelum promosi ke Liga Super Indonesia (LSI).
Pieter Tanuri membeli Putra Samarinda dari H Harbiansyah Hanafiah kemudian menjadikannya Bali United Pusam dan mulai bermarkas di Bali sejak tahun 2014.
• Jadwal Kualifikasi Liga Champions Asia 2020, Jika Bali United Lolos Masuk ke Grup Ini
• Bek Bali United Ini Tetap Prioritaskan Serdadu Tridatu Meski Banjir Tawaran Klub Liga 1
Kenapa Tanuri memilih Bali sebagai home base? Bukan di Samarinda?
“Pilihan Bali karena kami contek dari Manchester. Di sana berawal dari kota tekstil sekarang jadi kota wisata, musik, dan sepakbola. Saya berpikir Indonésia bisa kayak gini gak? Akhirnya Bandung dipilih karena mirip. Karena ada konveksi, industri, musik, seniman, dan bola. Kota model lain Indonésia yang sama yakni Bali. Nama Bali sangat terkenal di dunia,” kata Pieter Tanuri kepada Tribun Bali pada suatu wawancara di akhir Desember 2014.
“Bali United harus selamanya di Bali,” imbuh Pieter Tanuri kala itu.
Pelatih Bali United dari Musim ke Musim
Bali United Pusam pertama kali resmi menunjuk mantan pelatih tim nasional Indonesia U-19, Indra Sjafri, sebagai pelatih tim tersebut mulai musim 2015.
Setelah Indra Sjafri, Hans Peter Schaller juga sempat menjadi juru taktik Bali United pada awal musim 2017.
Tak berselang lama, Hans Peter Schaller hengkang dari Bali United.
Sejak itu, Bali United ditangani oleh pelatih Widodo Cahyono Putro atau yang akrab disapa Coach WCP.
Di tangan WCP, Bali United tampil cukup garang dan nyaris meraih juara 1 Liga 1 Indonesia tahun 2017.
Pada awal musim 2018, Bali United mengumumkan perpanjangan kontrak coach WCP hingga 2019 dengan opsi.
Salah satunya opsi pemutusan hubungan kerja jika Bali United kalah beruntun.
Benar saja, setelah menelan tiga kekalahan beruntun, Manajemen Bali United langsung memutus kontrak kerja dengan Coach WCP terhitung per Kamis (29/11/2018).
Setelah memutus kerjasama dengan WCP, barulah Bali United mendatangkan Eks pelatih Persija Jakarta Stefano Cugurra Rodrigues atau akrab disapa Teco.
• Bali Peringkat 3 Kerukunan Agama di Indonesia, Ini Tradisi yang Cerminkan Kerukunan di Pulau Dewata
• Rekor Menakutkan Kandang Bali United Dinodai PS Tira Persikabo, BU Kalah 0-1
Pada musim 2018, Teco sapaan akrab pelatih yang fasih bahasa Indonesia ini, telah membawa Persija Jakarta juara Liga I Indonesia.
Musim 2019, Teco kembali mempersembahkan gelar juara Liga I Indonesia untuk masyarakat Pulau Dewata.
Kini tapak kaki Bali United mulai merambah level Asia.
Tim dengan warna kebanggan merah, putih dan hitam ini akan mengikuti kualifikasi liga Champions Asia 2020.
Jika gagal di level ini, maka Piala AFC 2020 sudah menanti Bali United. Selamat berjuang Bali United. (*)