Kenali Boltek Stormtracker, Alat Pengukur Petir Milik BMKG Sanglah

Untuk memantau kejadian petir di wilayah Bali dan sekitarnya, BMKG Stasiun Geofisika Sanglah telah memiliki alat yang benama Sensor Boltek Stormtracke

istimewa/dokumen I Putu Dedy Pratama
Sensor Boltek Stormtracker 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Untuk memantau kejadian petir di wilayah Bali dan sekitarnya, BMKG Stasiun Geofisika Sanglah telah memiliki alat yang benama Sensor Boltek Stormtracker dengan software-nya bernama NexStorm.

Pengamat Geofisika BMKG Stasiun Geofisika Sanglah, I Putu Dedy Pratama mengatakan, selain di Sanglah, alat ini juga terdapat di Stasiun Klimatologi Jembrana, Bali.

"Alat ini menggunakan semacam gelombang radio dengan frekuensi AM," kata Dedy, ketika dihubungi, Selasa (17/12/2019) siang.

Adapun cara kerja dari alat ini yakni mencatat lokasi terjadinya petir, jenis petir, hingga waktu kejadiannya secara realtime.

Alat ini mampu merekam kejadian petir yang terjadi selama 24 jam penuh dalam seharinya.

Rekaman ini berguna sebagai peringatan bahaya kejadian petir yang patut diwaspadai masyarakat.

Selain itu, rekaman ini berguna untuk klaim asuransi yang digunakan sebagai  bukti bahwa ada kejadian petir pada lokasi dan waktu yang dimaksud. 

Beberapa hari terakhir, wilayah Bali sudah mulai memasuki musim penghujan. Hampir semua wilayah di Bali sudah tersentuh oleh hujan.

Hujan yang juga disertai petir ini harus menjadi perhatian serius bagi mereka yang bekerja di luar ruangan, termasuk bekerja di persawahan.

Dedy Pratama mengatakan saat musim hujan, masyarakat juga perlu waspada akan datangnya petir karena hampir setiap tahun, petir ini selalu menimbulkan korban jiwa.

"Berdasarkan pemetaan sambaran petir wilayah Bali oleh Stasiun BMKG Sanglah Denpasar, daerah yang rawan terhadap sambaran petir berada pada daerah pesisir pantai dan pegunungan karena daerah ini memicu pertumbuhan awan Cumulonimbus," katanya, Selasa (17/12/2019) siang.

Apabila dilihat dari bawah, awan ini berwarna gelap dan terlihat lebih rendah daripada awan lainnya.

Namun, awan ini sebenarnya berbentuk tinggi menjulang dengan pergerakan angin yang cukup aktif di dalamnya sehingga menyebabkan terjadi polarisasi muatan dan gejala kelistrikan berupa petir.

Selain petir, awan ini juga bisa menimbulkan hujan es. 

"Umumnya kejadian petir semakin meningkat di masa pancaroba. Hal ini terlihat dari rekaman sambaran petir daerah Bali untuk bulan Februari lebih banyak dibandingkan bulan Januari. Untuk bulan Maret kali ini sambaran petir masih diperkirakan tinggi karena memasuki musim pancaroba," katanya. (sup)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Ni Ketut Sudiani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved