Terjerat Kasus Suap, Mantan Ketua Umum PPP Romahurmuziy Menyesal dan Menangis
Rasa penyesalan itu diutarakan Romy saat ditanya Ketua Majelis Hakim Fahzal Hendri.
TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Mantan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan ( PPP) Romahurmuziy alias Romy menyesal karena terjerat dalam kasus dugaan suap terkait seleksi jabatan di Kementerian Agama ( Kemenag) Jawa Timur.
Rasa penyesalan itu diutarakan Romy saat ditanya Ketua Majelis Hakim Fahzal Hendri.
"Dengan peristiwa ini bagaimana perasaan saudara merasa salah kah atau bagaimana?" tanya hakim Fahzal ke Romy di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu (18/12/2019).
"Secara pribadi saya menyesalkan kejadian ini yang mulia. Karena saya dilahirkan dalam tradisi politik dan mulai dari kakek buyut sampai dengan ibu saya anggota DPR," jawab Romy sambil menangis.
"Nama baik saya dihancurkan," kata dia. Menurut Romy, saat ini adalah masa yang sulit bagi keluarganya.
Ia mengaku kesulitan membangun rasa pengertian kepada anak perempuannya yang menganggap dirinya selalu sibuk. Sebab, ia sering menerima banyak tamu di rumahnya.
Selain itu, Romy mengaku anaknya semakin terpukul dengan peristiwa ini.
• Pemain Muda Bali United Ini Akui Fisiknya Drop Dalam Dua Laga Terakhir
• Ramalan Zodiak Cinta Rabu 18 Desember 2019: Hubungan Virgo Sedang Diuji, Scorpio Mulus-mulus Saja!
• Bambang Pamungkas Pensiun, Klub Malaysia Ini Sebut Bepe Sebagai Legenda Skuat Merah Kuning
"Kebetulan sedang lulus SD yang mulia pada waktu itu dan minta sekolah ke luar negeri. Pada waktu itu dia langsung minta sekolah ke luar negeri. (Anak Romy bilang) Saya benci Indonesia. Karena yang dia tahu ayahnya siang malam keluar dan hampir tidak ada waktu untuk bertemu atau mengurus dia," katanya.
Ketika terjerat kasus, Romy pun berusaha meyakinkan anaknya bahwa ia tidak menerima suap seperti yang dituduhkan.
"Karena memang sejak mahasiswa saya sudah berbisnis. Jadi saya katakan 'Kamu percaya ayah yang melakukan itu? Masuk akal kah ayah menerima Rp 50 juta dan apakah segila itu ayah menerima uang di depan banyak orang di lobi terbuka sebuah hotel yang sangat terkenal," tutur Romy mengingat pesan kepada anaknya.
Setelah itu, Romy kembali mengenang sulitnya memulihkan kepercayaan terhadap anaknya bahwa ia tidak bersalah.
"Beberapa bulan saya mencoba untuk memulihkan dia dan membujuk dia untuk tidak keluar negeri, karena siapa yang akan menemani. Dan secara pribadi tentu nama baik keluarga saya. Tentu tradisi politik dalam keluarga saya hancur namanya karena peristiwa yang ditimpakan kepada saya ini," kata dia.
Di sisi lain, lanjut Romy, kasus yang menjeratnya itu juga berpengaruh terhadap perolehan kursi PPP di parlemen. Apalagi, ia ditangkap 32 hari sebelum Pemilu 2019 dilaksanakan.
"Akibatnya seperti yang sudah saya sampaikan kami kehilangan lebih dari separuh kursi PPP. Apa yang saya cita-citakan dan sudah terlihat tanda-tandanya akan naik, semuanya hancur. Dan Ini adalah sebuah peristiwa yang tak termaafkan tentu kepada para pendiri partai," ujarnya.
Hakim Fahzal pun mempersilakan Romy untuk menguraikan berbagai macam pembelaannya dalam pleidoi pribadi di sesi persidangan berikutnya.
"Baik terima kasih, yang mulia," ungkapnya. Dalam perkara ini, Romy didakwa menerima suap Rp 325 juta bersama-sama mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dari mantan Kepala Kakanwil Kemenag Jawa Timur Haris Hasanuddin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/romahurmuziy1.jpg)