Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Serba Serbi

Jadwal Hari Raya Hindu Bulan Januari 2020, Ada Siwa Ratri dan Tumpek Pengatag

Selama bulan Januari 2020 ini, umat Hindu khususnya yang ada di Bali akan merayakan 10 hari raya.

Tayang:
Tribun Bali/ Rizal Fanany
(ilustrasi) Para hewan yang mengikuti upacara Tumpek Kandang di Bali Safari & Marine Park, Gianyar, Bali, Sabtu (26/11/2016). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Selama bulan Januari 2020 ini, umat Hindu khususnya yang ada di Bali akan merayakan 10 hari raya.

Beberapa di antaranya merupakan hari raya besar seperti perayaan Siwa Ratri.

Berikut jadwal hari raya Hindu bulan Januari 2020.

1. Soma Umanis Tolu

Senin (6/1/2020) merupakan hari raya Soma Umanis Tolu.

Pada hari raya ini umat Hindu di Bali akan melakukan pemujaan di merajan atau paibon.

2. Purnama Kapitu
Jumat (10/1/2020) merupakan hari raya Purnama Kapitu.

Saat purnama adalah payogan Sang Hyang Wulan (Candra), sedangkan saat tilem Sang Hyang Surya yang beryoga.

Purnama juga merupakan hari penyucian diri lahir batin.

Oleh karena itu semua orang wajib melakukan penyucian diri secara lahir batin dengan mempersembahkan sesajen berupa canang wangi-wangi, canang yasa kepada para dewa, dan pemujaan dilakukan di Sanggah dan Parahyangan, yang kemudian dilanjutkan dengan memohon air suci.

Lebih lanjut dalam lontar Sundarigama disebutkan:

Samana ika sang purohita, tkeng janma pada sakawanganya, wnang mahening ajnana, aturakna wangi-wangi, canang nyasa maring sarwa dewa, pamalakunya, ring sanggat parhyangan, laju matirta gocara, puspa wangi. 

Selain itu Purnama juga merupakan hari baik untuk melakukan dana punia.

Mengenai sedekah, disebutkan dalam Sarasamuscaya, 170 berbunyi:

Amatsaryam budrih prahurdanam dharma ca samyamam,

wasthitena nityam hi tyage tyasadyate subham.

Nihan tang dana ling sang Pandita, ikang si haywa kimburu,

Ikang si jenek ri kagawayaning dharmasadhana,

apan yan langgeng ika, nitya katemwaning hayu,

pada lawan phalaning tyagadana.

Artinya:

Yang disebut dana (sedekah) kata sang pandita, ialah sifat tidak dengki (iri hati), dan yang tahan berbuat kebajikan (dharma) sebab jika terus menerus begitu, senantiasa keselamatan akan diperolehnya, sama pahalanya dengan amal yang berlimpah-limpah.

Akan tetapi, bersedekah itu tidak usah memandang pahala, ada atau tidak yang penting laksanakan.

3. Kajeng Keliwon Uwudan

Rabu (15/1/2020) merupakan hari raya Kajeng Kliwon Uwudan.

Kajeng Kliwon merupakan hari raya yang diperingati setiap 15 hari sekali.

Merupakan hari raya berdasarkan pertemuan antara Tri Wara terakhir yakni Kajeng dengan Pancawara terakhir yakni Kliwon.

Hari raya ini dianggap keramat di Bali.

Terkait Pancawara Kliwon, dalam Lontar Sundarigama disebutkan:

Nihan taya amanah, kunang ring panca terane, semadi Bhatara Siwa, sayogia wong anadaha tirtha gocara, ngaturaken wangi ring sanggar, muang luwuring paturon maneher menganing akna cita.

Wehana sasuguh ring natar umah, sanggar, ring dengen, dening sega kepel duang kepel dadi atanding, wehakna ada telung tanding, iwaknia bawang jae.

Kang sinambat ring natar, Sang Kala Bucari.

Ring sanggar Bhuta Bucari.

Ne ring dengen, Sang Durga Bucari

Ika pada wehana labaan, nangken kaliyon, kinon rumaksa umah, nimitania. Pada anemu sadia rahayu. Kunang yan kala biyantara keliyon, pakerti tunggal kayeng lagi.

Artinya saat Pancawara Kliwon, merupakan payogan atau beryoganya Bhatara Siwa.

Pada saat ini sepatutnya melakukan penyucian dengan mempersembahkan wangi-wangian bertempat di merajan, dan diatas tempat tidur.

Sedangkan di halaman rumah, halaman merajan dan pintu keluar masuk pekarangan rumah, patut juga mempersembahkan segehan kepel dua kepel menjadi satu tanding, dan setiap tempat tersebut, disuguhkan tiga tanding yaitu: 

Di halaman merajan, kepada Sang Bhuta Bhucari.

Di pintu keluar masuk, kepada Sang Durgha Bhucari.

Untuk di halaman rumah, kepada Sang Kala Bhucari.

Maksud persembahan berupa labaan setiap Kliwon ini untuk menjaga agar pekarangan serta keluarga semuanya mendapat perlindungan dan menjadi sempurna.

Sementara untuk Kajeng Kliwon juga disebutkan:

Kadi ring keliyon nemu atutan kewala tambahane sega warna limang warna, dadi awadah, ring dengen juga genahing caru ika, ika sanding lawang ring luur, aturane canang lenga wangi burat wangi, canang gantal, astawakna ring Durga Dewem, ne ring sor, ring Durga Bucari, Kala Bucari buta Bucari, palania ayu paripurna sira aumah, yania tan asiti mangkana I Buta Bucari, aminta nugeraha ring Bhatari Durga Dewem, mangerubadin sang maumah, angadakakan desti, aneluh anaranjana, mangawe gering sasab merana, apasang pengalah, pamunah ring sang maumah, muang sarwa Dewa kabeh, wineh kinia katadah da waduanira Sang Hyang Kala, nguniweh sewaduanire Dewi Durga, tuhunia mangkana, ayua sira alpa ring wuwus manai.

Artinya;

Sementara itu pada hari raya Kajeng Kliwon, untuk upakaranya sama seperti  pada hari Pancawara Kliwon, hanya tambahannnya yaitu segehan lima warna lima tanding. 

Pada samping kori sebelah atasnya dipersembahkan canang wangi-wangi, burat wangi, canang yasa, dan yang dipuja ialah Hyang Durga Dewi.

Yang disuguhkan di bawah untuk Sang Durga Bhucari, Kala Bhucari, Bhuta Bhucari, dengan tujuan agar berkenan memberikan keselamatan kepada penghuni rumah. 

Jika tidak melakukan hal itu, maka Sang Kala Tiga Bhucari akan memohon penugrahan kepada Bhatara Durga Dewi, untuk mengganggu penghuni rumah, dengan jalan mengadakan gering atau penyakit dan mengundang kekuatan black magic, segala merana, mengadakan pemalsuan, yang merajalela di rumah, yang mana mengakibatkan perginya para Dewata semuanya, dan akan memberi kesempatan para penghuni rumah disantap oleh Sang Hyang Kala bersama-sama dengan abdi Bhatara Durgha. 

4. Buda Keliwon Gumbreg

Rabu (15/1/2020) juga merupakan Buda Kliwon Gumbreg yang juga bertepatan dengan Kajeng Kliwon Uwudan.

5. Siwa Ratri

Kamis (23/1/2020) umat Hindu merayakan hari Siwa Ratri yang dirayakan sehari sebelum tilem Kapitu.

Wakil Ketua PHDI Bali, Pinandita Ketut Pasek Swastika mengatakan Hari Raya Siwaratri yang dilaksanakan saat Sasih Kepitu, pada hakikatnya adalah Namasmaranam pada Nama Siwa, yang artinya selalu mengingat dan memuja Siwa dalam upaya melenyapkan segala kegelapan batin. 

"Keutamaan Siwaratri diuraikan dalam kitab-kitab Purana yaitu Siwa Purana, Skanda Purana, Garuda Purana dan Padma Purana," paparnya.

Brata Siwaratri yang hendaknya dilaksanakan menurut berbagai Purana tersebut yaitu Upawasa yang biasanya dilaksanakan mulai matahari terbit. 

Menurut Agni Purana artinya "kembali suci"; yang dimaksud adalah dilatihnya indria melepaskan kenikmatan makanan atau dengan kata lain yaitu berpantang terhadap makanan, melatih untuk tidak terikat dengan kelezatan makanan sebagai bentuk melatih pengendalian indria-indria duniawi. 

Kedua yaitu Mona Brata yang artinya berdiam diri tidak bicara. 

"Mona bertujuan melatih diri dalam hal bicara agar terbiasa bicara dengan penuh pengendalian sehingga tidak keluar ucapan-ucapan yang tidak patut diucapkan. Mona adalah melatih pembicaraan pada diri sendiri dengan merenungkan kesucian. Mona Brata biasa dilaksanakan secara total mulai pagi hari hingga sore hari," jelasnya.

Brata ketiga yakni Jagra atau sadar, di mana selalu menjaga kesadaran buddhi. 

"Menjaga kesadaran agar selalu mengarah pada Sang Pencipta. Dalam upaya menjaga kesadaran inilah mereka yang totalitas melaksanakan Brata Mahasiwaratri biasanya pada malam harinya melakukan Japa Seribu Nama Siwa atau men-Japa-kan nama-nama Siwa yang jumlahnya seribu," katanya. 

6. Tilem Kapitu

Jumat (24/1/2020) merupakan pelaksanaan Tilem Kapitu yang dianggap sebagai Tilem yang paling gelap.

Menurut Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Putu Eka Guna Yasa, pemujaan kepada gelap atau Tilem ditujukan kepada Dewa Siwa.

Ia mengatakan, dalam Jnyana Sidantha disebutkan di dalam matahari ada suci, di dalam suci ada siwa, di dalam siwa ada gelap yang paling gelap.

Hal itulah yang menyebabkan tilem mendapatkan pemuliaan.

Guna mengatakan di daerah Bangli ada Pura Penileman, dimana setiap Tilem dilakukan pemujaan di sana.

"Di Pura Penileman dilakukan pemujaan kepada Siwa, karena ada warga masyarakat yang nunas (meminta) pengidep pati atau sarining taksu jelas sudah Siwa. Bukti arkeologis ada arca Dewa Gana yang merupakan putra Siwa,” katanya.

Sehingga dalam konteks kebudayaan di Bali yang dimuliakan bukan bulan terang saja atau Purnama, tapi gelap yang paling gelap juga dimuliakan.

7. Tumpek Pengatag

Sabtu (25/1/2020) merupakan Hari Raya Tumpek Uduh atau Pengatag atau Tumpek Bubuh.

Dilaksanakan 25 hari sebelum Hari Raya Galungan atau di Bali disebut selae dina sebelum Galungan, umat Hindu di Bali merayakan Tumpek Wariga.

Tumpek Wariga ini juga bisa dusebut dengan Tumpek Uduh, Tumpek Bubuh, Tumpek Panuduh, Tumpek Pengarah, atau Tumpek Pengatag.

Dirayakan setiap enam bulan sekali yaitu pada Saniscara Kliwon wuku Wariga.

Perayaan Tumpek Wariga ini merupakan hari suci pemujaan kepada Dewa Sangkara atau Dewa penguasa kesuburan semua pepohonan dan tumbuhan.

8. Soma Paing Warigadean

Senin (27/1/2020) merupakan Soma Paing Warigadean.

Pada hari ini memuja Bhatara Brahma dan menghaturkan sesaji di merajan atau sanggah kemulan.

9. Buda Wage Warigadean

Rabu (29/1/2020) adalah hari raya Buda Wage Warigadean yang dilaksanakan pada Rabu Wage wuku Warigadean.

10. Hari Bhatara Sri

Jumat (31/1/2020) dirayakan hari Bhatara Sri untuk memuja Dewi Sri sebagai dewi kemakmuran. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved