Banyak Babi Mati di Bali, Marak Ditemukan Bangkai Babi di Sungai
Di tengah banyaknya babi mati di Bali karena dugaan terkena virus ASF, tidak sedikit ditemukan bangkai babi yang dibuang sembarangan di sungai
Penulis: I Komang Agus Aryanta | Editor: Irma Budiarti
Banyak Babi Mati di Bali, Marak Ditemukan Bangkai Babi di Sungai
TRIBUN-BALI.COM, BADUNG - Di tengah banyaknya babi mati di Bali karena dugaan terkena virus African Swine Fever (ASF), tidak sedikit ditemukan bangkai babi yang dibuang sembarangan di sungai.
Hal itu beberapa kali ditemukan di Badung.
Salah-satunya yang terjadi belum lama ini di Banjar Panca Yasa Pupuan, Mengwitani, Badung.
Bangkai seekor babi besar tergeletak di aliran sungai tersebut, dan dikhawatirkan mencemari lingkungan setempat.
Tidak hanya di wilayah Mengwitani, beberapa ekor bangkai babi sebelumnya juga ditemukan di aliran sungai Penet Desa Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Badung.
Ketua Gabungan Usaha Peternak Babi Indonesia (GUPBI) Bali, Ketut Hari Suyasa, saat dihubungi Tribun Bali tak menampik kenyataan tersebut.
Hari Suyasa mengaku sangat menyayangkan adanya pembuangan babi ke sungai-sungai, yang ia yakini bisa sangat mencemari lingkungan.
"Saya sangat prihatin kepada peternak, karena saya pimpinan belum bisa memberikan sesuatu kepada mereka. Akan tetapi, kondisi ini bukanlah sebuah pembenaran bagi peternak untuk membuang bangkai babinya ke tempat umum, yang akan menimbulkan kerugian juga pada peternak yang lain," jelasnya.
GUPBI meminta para peternak di Badung tidak melakukan pembuangan bangkai babinya sembarangan, termasuk ke aliran sungai.
• Babi Mati di Bungkulan dan Sayan Bergelombang dalam 2 Minggu, Distan Bali Nyatakan Tak Mengarah ASF
• Dari Mulut Keluar Darah Berbau Busuk, Babi Mati Misterius di Gianyar Terus Berlanjut
Pasalnya, semua itu akan menimbukan masalah baru, yakni pencemaran lingkungan.
"Kita sangat berharap peternak mengubur bangkai babinya itu. Sebelum dikubur sebaiknya bangkai babi itu dibakar dulu. Setelah dibakar baru dikubur," harapnya.
Akan tetapi di tengah maraknya pembuangan bangkai babi itu, pihaknya juga meminta pemerintah hadir untuk memberikan solusi.
Terutama bagaimana mengatasi pemusnahan babi-babi yang sudah mati akibat ASF..
"Misalnya pemerintah daerah menyiapkan lokasi khusus untuk melakukan pembuangan bangkai babi itu. Selain juga menyiapkan alat berat untuk melakukan pengerukan tanah, sehingga memberikan keringanan bagi masyarakat," katanya.
Hari Suyasa yang asal Abiansemal juga mengaku sangat memahami masalah peternak.
"Peternak punya babi indukan 10 ekor dengan berat 300 kg. Nah jika semuanya mati, termasuk anak-anaknya, ke mana mereka harus bawa? Kalau pun mereka melakukan penanaman atau mengubur bangkai-bangkai babi itu, mereka membutuhkan dana sebesar Rp 100 sampai 200 ribu sekali tanam," jelasnya.
Ia melanjutkan, sekali mengubur bangkai seekor babi, upah gali tanah mencapai ratusan ribu.
Jika babi yang dikubur berjumlah 10 ekor, maka peternak harus mengeluarkan uang jutaan di tengah kesulitan yang mereka alami karena wabah yang melanda ternaknya.
"Nah karena itu, kita minta pemerintah memberikan solusi, sehingga kejadian itu tidak terulang di masyarakat," pungkasnya.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/bangkai-seekor-babi-tergeletak-di-aliran-sungai-di-badung.jpg)