Ini Tips Mengatur Keuangan Selama Masa Isolasi, Fokus Pada Pengeluaran Primer
Masa isolasi membuat sebagian masyarakat mulai melirik aktivitas belanja online.Ini Tips Mengatur Keuangan selama masa isolasi
TRIBUN-BALI.COM - Pembatasan sosial atau social distancing merupakan satu diantara cara untuk mencegah virus Corona (Covid-19).
Social distancing pun telah di terapkan di Indonesia, dan beberapa perusahaan telah menerapkan work from home.
Karena hal tersebut sebagian masyarakat enggan keluar rumah.
Untuk membeli bahan pokok beberapa orang memilih melakukannya secara online.
• Lakukan 7 Langkah Ini agar Tetap Nyaman Saat Isolasi Diri di Rumah
• Ditengah Wabah Corona, Jangan Lupa Bahagia
• Mulai Hari Ini Pasar Badung Terapkan Sistim Belanja Online, Begini Caranya
Masa isolasi membuat sebagian masyarakat mulai melirik aktivitas belanja online.
Adanya perubahan pola konsumsi, penting bagi masyarakat untuk mengatur keuangannya agar tidak boros dan pada akhirnya kehabisan uang.
Menurut Co-Founder and Vice-CEO, Jouska Indonesia, Farah Dini Novita, salah satunya adalah berupaya menunda segala pembelian yang sifatnya sekunder atau tersier.
"Pokoknya tunda pembelian yang sifatnya sekunder dan tersier apalagi yang luxury, nanti dulu deh, karena kita enggak tahu ujungnya di mana nih," kata Farah dalam liputan Live Streaming bersama Shopee, Kamis (26/3/2020).
"Keperluan untuk entertainment mungkin bisa dialihkan untuk kesehatan."
Fokus pada pengeluaran primer
Masyarakat perlu menerapkan pola belanja harian yang lebih bijak.
Cara mudahnya, fokuslah pada pengeluaran primer terlebih dahulu.
Beberapa contoh pengeluaran primer antara lain belanja makanan, bahan-bahan makanan, keperluan sanitasi, kesehatan, dan lainnya.
Farah menambahkan, pastikan kita mengutamakan berbelanja sesuatu yang memang dibutuhkan dan dapat mendukung masa "work from home" kita.
"Yang harus diefisienkan adalah pengeluaran yang sifatnya sekunder. Jika ada barang yang untuk saat ini belum dibutuhkan, mungkin bisa dihemat dulu di situ," katanya.
Menyisihkan dana darurat
Sebetulnya, menyisihkan dana darurat bukan hanya diperlukan untuk situasi seperti saat ini, ketika wabah virus corona merebak.
Sayangnya, kebiasaan menyisihkan dana darurat kerap disepelekan.
"Ini harus kita sisihkan setiap bulan untuk ditabung. Jangan sampai investasi dulu, saham dulu, itu kan naik-turun. Sedangkan dana darurat kan butuhnya segera," ujar Farah.
Lalu, berapa persen anggaran yang perlu disisihkan untuk dana darurat?
Menurut Farah, setiap orang memiliki profil risiko dan tanggungan yang berbeda-beda, sehingga besaran dana darurat yang disisihkan juga beragam.
Namun, cobalah menghitung apakah aset lancar yang dimiliki cukup untuk membiayai hidup kita selama beberapa waktu.
"Kalau ternyata pengeluaran bulanan saja sudah Rp 5 juta sendiri, aset lancar cuma Rp 10 juta. Berarti hanya bisa bertahan hidup dua bulan, belum lagi dengan pengeluaran lainnya," kata dia.
Maka, mulailah menyisihkan dana darurat mulai sekarang. Setidaknya, anggaplah kamu menabung untuk keperluan satu tahun ke depan.
Simpanlah dana tersebut pada satu tabungan deposito yang terpisah dari tabungan untuk keperluan harian.
"Karena kalau disatukan tendensinya ada gatalnya (untuk dipakai), jadi dipisahkan di tabungan yang tidak boleh diotak-atik kecuali darurat," ungkapnya.(*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Jangan Boros Selama Masa Isolasi, Simak Tips Mengatur Keuangan Berikut", https://lifestyle.kompas.com/read/2020/03/26/223300220/jangan-boros-selama-masa-isolasi-simak-tips-mengatur-keuangan-berikut?page=all#page2.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/foto-ilustrasi-pria-sedang-melakukan-isolasi-di-rumah-karena-covid-19.jpg)