Corona di Bali

Keluarga yang Sempat Kontak dengan PDP di Bangli Dikarantina Selama 14 Hari

Ketua Gugus Tugas Satgas Covid-19 Bangli, I Made Gianyar mengatakan walau hasil rapid test dinyatakan negatif, tiga anggota keluarga tersebut

Istimewa
Sejumlah petugas kesehatan ketika bersiap melakukan rapid test pada keluarga PDP, di wilayah Desa Selulung, Kintamani. Rabu (1/4) 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Tiga anggota keluarga Pasien Dalam Pemantauan (PDP) asal Desa Selulung, Kintamani kini wajib menjalani karantina.

Seluruh kebutuhan logistik pun kini dipenuhi oleh Dinas Sosial Kabupaten Bangli.

Ketua Gugus Tugas Satgas Covid-19 Bangli, I Made Gianyar mengatakan walau hasil rapid test dinyatakan negatif, tiga anggota keluarga tersebut akan tetap dikarantina selama 14 hari kedepan.

Gianyar menegaskan upaya tersebut sesuai prosedur yang harus dilakukan.

Tinggal di DKI Jakarta, Bek Kiri Bali United Ini Bagikan Tips agar Tetap Aman dari Covid-19

Usai Kecolongan Kapal Viking Sun, Kini Pemkot Denpasar Larang Kapal Pesiar Sandar di Pelabuhan Benoa

“Nanti pada hari ke tujuh, berdasarkan SOP tiga orang tersebut akan kembali di lakukan rapid test. Apabila hasilnya masih negatif, maka pada hari ke-14 mereka tidak lagi menjalani karantina, dan boleh beraktifitas diluar pekarangan rumah.

Sebaliknya jika dalam 7 hari diketahui gejala panas, sesak, serta hasil tes menunjukkan positif, maka akan dirujuk ke RSUP Sanglah, atau RS rujukan terdekat lain,” ujarnya Rabu (1/4/2020)

Selama masa karantina, Gianyar yang juga Bupati Bangli ini telah memerintahkan bidan puskesmas setempat untuk melakukan pemantauan.

Pihaknya juga telah memerintahkan Dinas Sosial untuk menyiapkan segala kebutuhan logistik.

Pun demikian, juga telah memerintahkan kepada kelihan banjar dan kelihan adat untuk membantu merawat ternak keluarga tersebut.

“Selama masa karantina, keluarga yang bersangkutan berkomunikasi lewat telepon selular.

Untuk kebutuhan logistic berupa sembako, nantinya akan didrop oleh kelihan banjar setempat hingga pekarangan saja,” ujar Gianyar.

Sedangkan disinggung soal kebijakan desa untuk menutup akses masuk ataupun keluar, bupati asal Desa Bunutin, Kintamani itu menilai wajar dilakukan sebab pihak desa panik.

Kendati demikian, pihaknya menegaskan jika yang diisolasi bukan desa ataupun banjar melainkan satu pekarangan yang sempat melakukan kontak dengan PDP.

 “Ini juga berlaku untuk desa-desa lain agar tidak panik berlebihan. Lebih baik menyediakan posko-posko di pintu masuk desa untuk dilakukan penyemprotan desinfektan, maupun menyediakan tempat-tempat cuci tangan.

Intinya lakukan apa yang terbaik untuk diri kita, dan lakukan yang terbaik untuk membantu orang lain,” tandasnya. (*)

Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Wema Satya Dinata
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved