Corona di Bali

Kisah Seorang Perawat di Buleleng Usai Sembuh dari Covid-19, Sempat Ditolak Masuk Rumah Kontrakan

IGAAM sudah hampir 10 tahun bekerja di ruang Lely. Ruangan itu khusus untuk merawat pasien dengan penyakit infeksi

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Wema Satya Dinata
Istimewa
IGAAM (kanan) saat bertugas di ruang isolasi RSUD Buleleng 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Terinfeksi virus corona atau Covid-19 bukan menjadi hal yang mengejutkan bagi IGAAM.

Wanita berusia 33 tahun ini telah siap menerima segala risiko, karena pekerjaannya.

Ia merupakan perawat yang ditugaskan untuk menangani Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di ruang isolasi Lely RSUD Buleleng.

IGAAM sudah hampir 10 tahun bekerja di ruang Lely. Ruangan itu khusus untuk merawat pasien dengan penyakit infeksi.

Empat Relawan Bagikan Paket Nasi Goreng dan Sembako di Jalan Tukad Yeh Aya Denpasar

Meski Ditutup, Objek Wisata Sangeh Tetap Keluarkan Dana 12 Juta Per Bulan Buat Beli Pakan Monyet

Kemudian sejak mewabahnya virus corona, Pemkab Buleleng memutuskan untuk menjadikan ruangan itu sebagai ruang isolasi khusus  PDP virus corona.

Sehingga mau tidak mau, IGAAM bersama rekan-rekannya harus bersedia  merawat pasien virus corona. Terlebih, pengalaman yang dimiliki juga sudah cukup matang.

Memasuki awal Maret, RSUD Buleleng mulai menerima satu orang pasien, yang dicurigai terpapar virus corona.

Pasien yang diberi kode PDP 01 itu sempat berlibur ke Italia, dan mengalami sakit flu, batuk dan demam.

Saat itu lah IGAAM bersama rekan-rekannya mulai bekerja, mengenakan pakaian  pelindung anti virus (hazmat suit) selama berjam-jam.

Saat itu pula, IGAAM juga memutuskan untuk berpisah sementara waktu dari suami dan keluarganya.

Ia memilih untuk tinggal sendiri, di sebuah rumah kontrakan kawasan Kecamatan Buleleng, karena khawatir dapat menularkan virus corona kepada orang-orang yang ia cintai.

Selang beberapa hari kemudian, jumlah PDP di RSUD Buleleng mulai bertambah.

Hingga pada hasil lab menunjukan ada satu pasien yang positif terinfeksi virus corona. Dia adalah PDP 03, pekerja kapal pesiar yang sempat berlayar di Italia.

Mengetahui hal tersebut, pemerintah pun langsung mengecek kondisi seluruh petugas medis yang betugas di ruang Lely RSUD Buleleng, serta kepada masyarakat yang sempat melakukan kontak dengan PDP 03.

Hasilnya, ada tiga orang yang dinyatakan terpapar virus corona, karena sempat melakukan kontak dengan PDP 03.

Mereka adalah IGAAM bersama satu orang bidan yang juga bertugas di ruang isolasi RSUD Buleleng, serta satu orang sopir yang sempat menjemput PDP 03 di bandara.

"Padahal saya tidak batuk, flu dan demam. Saya kabarkan ke suami dan keluarga bahwa saya positif. Mereka sempat kaget. Saya sudah berusaha menjaga agar tubuh tetap bersih, setiap hari sampai lima kali mandi dan keramas, tapi akhirnya bisa terinfeksi juga. Saya dan keluarga bisa menerima, karena ini sudah jadi risiko pekerjaan," ucap IGAAM saat dihubungi melalui saluran telepon, Senin (6/4/2020).

Setelah divonis positif corona, praktis IGAAM juga harus dirawat di ruang isolasi RSUD Buleleng. Ia dirawat bersama tiga pasien positif lainnya, yakni PDP 03, PDP 06 dan PDP 07.

"Di ruang isolasi kami saling support. Petugas medisnya juga kami bilang harus semangat, jangan takut. Selama di ruang isolasi kami diberikan treatment dan vitamin," terangnya.

Selang satu minggu menjalani perawatan, kabar baik diterima oleh IGAAM, bersama PDP 06 dan PDP 07.

Berdasarkan swab yang dua kali dilakukan, ketiganya dinyatakan telah sembuh alias negatif dari virus corona.

IGAAM  pun pulang pada Sabtu (4/4) malam kemarin. Namun ia tidak dijemput oleh keluarga. Melainkan diantar oleh rekan kerjanya, dengan alasan masih harus menjalani isolasi mandiri selama satu minggu di rumah kontrakannya.

Namun setibanya di rumah kontrakan, IGAAM sempat mendapatkan perilaku yang kurang enak dari sang pemilik kontrakan.

 Tepat di depan pintu, tertempel sebuah kertas bertuliskan imbauan agar IGAAM segera mengosongkan rumah.

Ia pun  mengaku sempat sedih melihat surat imbauan itu, lalu melaporkannya kepada dokter serta suaminya.

"Suami saya sempat marah, sampai bikin status di FB. Saya juga sempat nelpon dokter yang merawat saya di rumah sakit, agar dicarikan jalan keluarnya. Sampai akhirnya Pemkab turun tangan, dan menugaskan Camat Buleleng untuk memberikan pemahaman kepada pemilik kontrakan bahwa saya sudah sembuh. Setelah itu akhirnya pemilik kontrakan paham, dan saya boleh tinggal lagi di rumah itu," tuturnya.

Meski sempat terinfeksi virus corona, IGAAM  menyatakan siap untuk kembali ditugaskan di ruang isolasi RSUD Buleleng bila dibutuhkan.

"Saya tidak trauma, karena ini memang pekerjaan saya. Untuk masyarakat Buleleng sebaiknya tidak panik dengan adanya wabah ini. Ikuti anjuran pemerintah, melakukan social distancing dan selalu jaga kebersihan tubuh. Astungkara orang yang pernah terinfeksi juga bisa sembuh," tutupnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved