Anak-anak Muda di Paris Menyerang Polisi Antihuru-hara Saat Lockdown, Kerusuhan Tak Terhindarkan
Di tengah penyebaran virus Corona atau Covid-19 di berbagai wilayah, kerumunan anak muda menargetkan polisi antihuru-hara
TRIBUN-BALI.COM, PARIS - Di tengah penyebaran virus Corona atau Covid-19 di berbagai wilayah, kerumunan anak muda menargetkan polisi antihuru-hara dengan kembang api dan membakar ban di pinggiran Paris.
Kehadiran polisi untuk menegakkan lockdown malah memperburuk ketegangan.
Banlieue Prancis, kawasan dengan penduduk berpenghasilan rendah mengelilingi kota-kota di negeri mode, sering menjadi titik nyala kemarahan atas ketidaksetaraan sosial dan ekonomi serta tuduhan kepolisian bertindak kasar.
Di Villeneuve-La-Garenne, tempat masalah pertama kali berkobar pada Sabtu (18/4/2020) pekan lalu setelah pengendara sepeda motor menabrak pintu mobil polisi yang terbuka, anak-anak muda mengarahkan tembakan kembang api ke arah polisi.
Penguncian yang diberlakukan Pemerintah Prancis untuk menahan penyebaran virus corona, menyebabkan orang hanya bisa meninggalkan rumah untuk membeli bahan makanan, pergi bekerja, mendapatkan perawatan medis, atau berolahraga.
Dalam insiden Sabtu pekan lalu, beberapa warga setempat mengatakan, petugas sengaja membuka pintu mobil polisi ke jalur pengendara sepeda motor.
Menurut Kepolisian Paris, investigasi sedang mereka lakukan atas kejadian itu.
Kerusuhan juga pecah pada Senin hingga Selasa malam di distrik-distrik sekitarnya d Prancis seperti Gennevilliers, Clichy-La-Garenne, dan Asnieres.
“Polisi bergerak melalui jalan-jalan, dengan pelontar gas air mata dan tameng. Banyak kembang api,” kicau Clement Lanot, jurnalis lepas, di akun Twitter-nya, Senin tengah malam ketika kerusuhan meletus, seperti dilansir Reuters.
Kenangan 2005
Pada 2005, kematian dua pemuda yang melarikan diri dari kejaran polisi di pinggiran Utara Paris memicu kerusuhan nasional yang berlangsung selama tiga minggu.
"(Kejadian) ini mengingatkan saya pada 2005," kata Yves Lefebvre, Kepala SGP Unite, serikat polisi terbesar di Prancis, seperti dikutip Reuters. "Yang saya takutkan adalah itu akan meledak di banlieues. Mungkin sangat sulit diatasi”.
Lefebvre mengatakan, Kepolisian sedang menambah personel karena sekitar 10% petugas sakit, menjalani isolasi diri, atau harus menjaga anak-anak selama penguncian.
"Jika besok kami dihadapkan dengan kekerasan perkotaan yang meluas, kami akan kesulitan mempertahankan penguncian kecuali jam malam diberlakukan, dan tentara dipanggil untuk membantu menegakkannya," ujar Lefebvre.
Seorang juru bicara Kepolisian Prancis menolak mengomentari kemungkinan pemberlakuan jam malam jika situasinya memburuk.