Akhir-akhir Ini Cuaca Siang Hari Cenderung Panas dan Gerah, Ini Faktor Pemicunya
Terkait kondisi suhu panas di siang hingga sore hari tersebut, banyak masyarakat yang mengaitkan dengan adanya pemanasan global atau perubahan iklim
Selain perubahan iklim dan meningkatnya suhu udara dan suhu di lautan, ada beberapa faktor lainnya yang membuat cuaca di Indonesia akhir-akhir panas terik dan cenderung membuat gerah masyarakat.
1. Kelembaban udara rendah
Herizal menjelaskan bahwa suasana terik umumnya disebabkan oleh suhu udara yang tinggi dan disertai oleh kelembapan udara yang rendah, terutama terjadi pada kondisi langit cerah dan kurangnya awan.
"Sehingga pancaran sinar matahari langsung lebih banyak diteruskan ke permukaan bumi," kata Herizal.
Berkurangnya tutupan awan terutama di wilayah Indonesia bagian selatan pada bulan-bulan ini disebabkan wilayah ini tengah berada pada masa transisi dari musim hujan menuju musim kemarau sebagaimana diprediksikan BMKG sebelumnya, seiring dengan pergerakan semu matahari dari posisi di atas khatulistiwa menuju Belahan Bumi Utara (BBU) Transisi musim itu ditandai oleh mulai berembusnya angin timuran dari Benua Australia (monsun Australia) terutama di wilayah bagian selatan Indonesia.
Angin monsun Australia ini bersifat kering kurang membawa uap air, sehingga menghambat pertumbuhan awan.
"Kombinasi antara kurangnya tutupan awan serta suhu udara yang tinggi dan cenderung berkurang kelembapannya inilah yang menyebabkan suasana terik yang dirasakan masyarakat," kata dia.
2. Suhu terus menghangat
Sesuai dengan prediksi BMKG sebelumnya, bahwa April dan Mei menjadi awal musim kemarau di beberapa wilayah Indonesia.
Oleh sebab itu, bulan Maret hingga April menunjukkan suhu yang terus menghangat, hampir di sebagian besar tempat di Indonesia.
Pemantauan oleh BMKG pada bulan April ini, teridentifikasi banyak daerah yang mengalami suhu maksimum 34 hingga 36 derajat Celcius, bahkan yang tertinggi tercatat mencapai 37,3 derajat Celsius pada tanggal 10 April 2020 di Karangkates, Malang.
Sementara kelembapan udara minimum di bawah 60 persen terpantau terjadi di sebagian Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, sebagian Jawa Timur dan Riau.
3. April-Juni puncak suhu maksimum
Menurut Herizal, secara klimatologisnya bulan April-Mei-Juni memang tercatat sebagai bulan-bulan dimana suhu maksimum mengalami puncaknya di Jakarta, selain Oktober hingga November.
Pola tersebut mirip dengan pola suhu maksimum di Surabaya, sementara di Semarang dan Jogjakarta, pola suhu maksimum akan terus naik secara gradual pada bulan April dan mencapai puncaknya pada bulan September hingga Oktober.
(Kompas.com/Ellyvon Pranita)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Masih Sering Hujan, Kenapa di Siang Hari Suhu Indonesia Terasa Panas?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-cuaca-terik_20180418_074050.jpg)