Corona di Bali
Kunjungan Wisman ke Bali Anjlok 100 Persen pada April Akibat Dampak Corona
Pasalnya, ketika industri pariwisata berhenti bergerak, maka berdampak pada ekonomi dan banyak sektor lain di Bali.
TRIBUN-BALI.COM - Dampak dari pandemi virus corona terhadap industri pariwisata di Bali sangat besar.
Selain itu, ketika industri pariwisata berhenti bergerak, maka berdampak pada ekonomi dan banyak sektor lain di Bali.
Hal itu terjadi karena pariwisata merupakan tulang punggung ekonomi Bali.
Menurut data Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali, pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada bulan April 2020 dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2019 lalu, menurun hampir 100 persen
• Negara-Negara Ini Punya Gamer Terhebat di Dunia, Finlandia Paling Andal
• Dandim 1611/Badung Ingatkan Babinsa untuk Patroli dan Beri Imbauan Covid-19
• Gelapkan Uang Perusahaan Rp 1 Miliar Lebih, Mantan Manager Ini Dilimpahkan
Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Sukawati mengatakan bahwa Bali jadi salah satu daerah yang mengalami dampak pandemi corona paling parah.
Pasalnya, sekitar 60 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali berasal dari sektor pariwisata.
“Tidak hanya pariwisata, sektor lain juga terdampak ( penurunan wisatawan)," ujar Tjokorda dalam sesi Industry Roundtable online edisi keempat yang digelar oleh Markplus, Inc. dan Jakarta Chief Marketing Officer (CMO), Jumat (24/4/2020).
Contohnya, lanjut Tjokorda, sektor pertanian. Biasanya hasil pertanian di Bali terserap hotel-hotel yang jumlahnya mencapai 140.000 kamar. "Sekarang tidak ada lagi dan para petani oversupply,” katanya.
Dalam data dari GIPI, pada Januari 2020 lalu jumlah wisman ke Bali sempat meningkat 11 persen.
Lalu jumlah wisman menurun pada Februari 2020 sebesar 18 persen. Pada masa ini semua penerbangan dari dan ke China sudah mulai ditunda.
Jumlah penurunan semakin drastis pada Maret 2020. Penurunan mencapai 42,32 persen.
Pasalnya, selain turis China, turis dari negara-negara Eropa seperti Italia, Vatikan, Spanyol, Perancis, Jerman, Swiss, Inggris, dan beberapa kota di Korea Selatan sudah dibatasi untuk tidak masuk ke Bali.
Namun yang paling drastis adalah penurunan pada bulan April 2020 yakni mencapai sekitar 93,24 persen dengan adanya virus outbreak di Bali.
Tak itu saja, potensi kehilangan yang dialami oleh industri pariwisata dan MICE di Bali diprediksi mencapai lebih dari Rp 9 milyar.
Menurut data GIPI, 10 asosiasi pariwisata yang bernaung di bawah Gabungan Pengusaha Wisata Bahari (Gahawisri) Bali, mengalami kerugian lebih dari Rp 3 milyar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/petugas-pantai-melarang-wisatawan-datang-ke-pantai-kedonganan-badung-rabu-1542020.jpg)