Dampak Rumor Meninggalnya Kim Jong Un: Warga Pyongyang Panic Buying, Takut Ada Perebutan Kekuasaan

Kabar hilangnya Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un hingga rumor meninggal membuat warga Pyongyang mengalami panic buying

AFP/STR/KCNA MELALUI KNS
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un berbicara dalam pertemuan Biro Politik Komite Sentral Komite Sentral Partai Buruh Korea (WPK) di Pyongyang. Foto diambil Sabtu (11/4/2020) dan dirilis Kantor Berita Pusat Korea (KCNA). Dampak Rumor Meninggalnya Kim Jong Un: Warga Pyongyang Panic Buying, Takut Ada Perebutan Kekuasaan 

TRIBUN-BALI.COM - Kabar hilangnya Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un hingga rumor meninggal membuat warga Pyongyang mengalami panic buying.

Seperti diberitakan sebelumnya, diktator berusia 36 tahun itu sudah menghilang dari pandangan publik sejak beberapa pekan terakhir.

Tiba-tiba muncul kabar dari media Korea Utara di Seoul, bahwa Kim Jong Un dalam kondisi kritis hingga mati otak karena operasi jantung yang gagal.

Perkembangan terakhir adalah dokter yang memasang ring pada jantung Kim gemetar ketakutan sehingga mengakibatkan kegagalan.

Jadi Kim dikatakan dalam kondisi vegetatif, namun seorang sumber terpercaya mengklaim bahwa diktator itu meninggal dunia.

Banyaknya spekulasi ini alhasil memicu pertanyaan tentang keadaan sebenarnya dan ketakutan akan adanya perebutan kekuasaan di Pyongyang.

Sebagaimana dilaporkan The Sun dari New York Post, rak-rak di toko di Ibukota Pyongyang sudah kosong. 

Barang-barang penting seperti deterjen, makanan, alat elektronik, serta alkohol sudah ludes terjual.

Produk-produk impor adalah barang yang pertama kali diserbu pembeli.

Tetapi beberapa hasil produksi dalam negeri seperti rokok dan ikan kaleng juga habis.

Halaman
123
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved