PMI Mulai Resah Hasil Tes Kesehatan, Beredar WA Alat Rapid Test Tak Recommended

Mereka berharap, rapid test berkala yang dilakukan Dinas Kesehatan Klungkung tetap akurat untuk melakukan screening orang yang terinfkesi virus Corona

Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Dinas Kesehatan Klungkung kembali melaksanakan rapid test di GOR Swecapura, Gelgel, Klungkung, Rabu (29/4/2020). 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Beberapa PMI (Pekerja Migran Indonesia) di Klungkung resah, dengan beredarnya pesan WhatsApp berantai yang menyatakan Pemprov Bali membeli alat rapid test yang tidak direkomendasikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Mereka berharap, rapid test berkala yang dilakukan Dinas Kesehatan Klungkung tetap akurat untuk melakukan screening orang yang terinfkesi virus Corona.

“Saya ada yang mengirimi pesan itu melalui WhatsApp. Tentu ada rasa khawatir, kalau dikatakan rapid test tidak akurat," ungkap seorang PMI yang meminta namanya tidak ditulis, Senin (4/5/2020).

Ia sudah dua kali menjalani rapid test, hasilnya non-reaktif.

Namun ia tetap mengurangi aktivitas di rumah, untuk antisipasi stigma negatif dari masyarakat.

“Sekarang alat rapid test yang diisukan tidak akurat. Kan masyarakat bisa kembali menstigma kami negatif, walau kami sudah terbukti negatif saat jalani rapid test," jelasnya.

Kadiskes Klungkung dr Ni Made Adi Swapatni memastikan, Dinas Kesehatan Klungkung selama ini tidak menggunakan alat rapid test bermerek Vivadiag yang diributkan tidak akurat tersebut.

"Kebetulan yang kami dapat di Klungkung bukan rapid test (merek) itu. Selama ini tidak ada masalah dengan alat rapid test yang kami gunakan," ujar Made Adi Swapatni, Senin (4/5/2020).

Selain mendapat distribusi alat rapid test dari Dinkes Bali, Dinkes Klungkung juga membeli secara mandiri sebanyak 200 unit.

“Kami juga ada pengadan alat rapid test, hanya saja jumlahnya tidak banyak, hanya 200 dan bukan produk Vivadiag," ungkapnya.

Adi Swapatni menyebutkan, dirinya mendapat informasi dari stafnya, jika ada daerah yang menerima distribusi rapid test Vivadiag agar dikembalikan ke Pemprov Bali.

Sempat beredar pesan berantai di WhatsApp yang berisikan informasi bahwa Pemprov Bali telah membeli 4.000 unit alat rapid test dengan merek Vivadiag. Alat itu sudah dipakai saat rapid test massal tahap pertama di Banjar Serokadan, Desa Abuan, Kecamatan Susut, Bangli pada 30 April 2020.

Dalam pesan itu, disebutkan bahwa BNPB tidak pernah mengeluarkan rekomendasi terhadap alat rapid test merek Vivadiag tersebut.

Namun Kadis Kesehatan Bali dr I Ketut Suarjaya menyatakan, di laman resmi Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid- 19 Nasional ada nama produk Vivadiag sebagai salah satu alat rapid test yang direkomendasikan.

Berdasarkan itu pula Dinas Kesehatan Bali berani membeli 4000 unit alat rapid test merek Vivadiag. (*)

Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Bambang Wiyono
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved