Seni Bertahan di Masa Pandemi, Hotel di Bali Terapkan Bayar Sekarang, Menginap Nanti

Promosi yang bertajuk 'Pay Now, Stay Later' ini, menurutnya, cukup sukses memberikan pemasukan sehingga operasional hotel yang dipimpinnya masih bisa

Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan
ILUSTRASI - Suasana di DTW Tanah Lot terpantau ramai di tahun baru 2020, Rabu (1/1/2020). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Perekonomian Bali anjlok diterpa pandemi Covid-19. Sektor pariwisata pun lumpuh. Gagasan ihwal cara bertahan saat masa sulit kemudian muncul terutama untuk kebertahanan dunia pariwisata. 

General Manager H Sovereign Bali, Made Ramia Adnyana mengatakan, di tengah pandemi Covid-19 ini, pihaknya berupaya menjual voucher kepada calon wisatawan dengan sistem bayar sekarang, menginap belakangan untuk tahun 2021.

“Kami sudah tidak memiliki cashflow lagi, agar pengusaha pariwisata bisa bertahan pemerintah harus hadir membantu dunia usaha di sektor pariwisata,” jelas Ramia saat menjadi pembicara dalam webinar bertajuk 'Survival Strategy Pelaku Pariwisata Bali dalam Mengadapi Krisis Pandemi Covid-19”, Rabu (20/5/2020).

Promosi yang bertajuk 'Pay Now, Stay Later' ini, menurutnya, cukup sukses memberikan pemasukan sehingga operasional hotel yang dipimpinnya masih bisa berjalan. Promosi tersebut disebarkan kepada 3.000 agen pemasaran yang selama ini diajak kerjasama.

Hingga akhir April 2020 sudah terjual sebanyak 500 voucher dan ditargetkan laku hingga 1500 voucher. Kesuksesan Souverign Hotel Bali itu pun diikuti oleh sejumlah hotel lainnya di Bali dan di Surabaya, Jawa Timur.

Selain Ramia, webinar yang diselenggarakan oleh Pusat Unggulan Pariwisata (Pupar) Universitas Udayana (Unud) itu juga menghadirkan Owner Krisna Holding Company Gusti Ngurah Anom alias Ajik Cok Krisna dan GM X2 Bali Breakers Resort Komang Artana.

Ramia menjelaskan, pihak hotel di tengah pandemi Covid-19 ini menghadapi masalah yang berat karena harus mengeluarkan dana operasional dengan proporsi sekitar 40 hingga 45 persen untuk menggaji karyawan, dan 10 persen untuk membayar rekening listrik PLN.

Souverign Hotel, lanjutnya, harus merogoh uang untuk rekening listrik antara Rp 200 juta sampai Rp 260 juta per tahun. Guna mengatasi ini, pihaknya mencoba melakukan negosiasi agar mendapat penundaan atau keringanan kepada PLN, namun hasilnya nihil.

PLN, katanya, juga mengalami kesulitan keuangan sehingga tidak bisa mengabulkan keinginan pengusaha pariwisata.

“Kami mendesak pemerintah segera mengeluarkan kebijakan memberikan billout kepada pengusaha pariwisata seperti yang dilakukan pemerintah Jerman,” tegas Ramia yang juga sebagai Wakil Ketua Umum 1 Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) ini.

Bertani

Sementara itu, General Manager X2 Bali Breakers Resort, Komang Artana mengatakan promosi Pay Now, Stay Later juga akan diadopsi sebagai strategi penjualan kamar di Bali Breakers Resort.

Namun pihaknya juga mengaku punya strategi lain untuk menjaga keberlangsungan usahanya. Resort dengan luas areal sekitar 40 are di Kawasan Balangan, Jimbaran yang dipimpinnya itu memang banyak lahan yang masih kosong.

“Kami mengajak karyawan untuk bertani, menanami lahan yang kosong di sekitar resort, menanam berbagai komoditas pertanian seperti kacang, jagung, ketela pohon dan sereh. Di samping budidaya secara konvensional juga hidroponik” papar Komang Artana.

Kendati tidak mendapatkan penghasilan dalam bentuk uang, pihak manajemen resort akan membagi hasil pertanian untuk karyawan. Hal ini melengkapi kegiatan yang selama ini dilakukan setiap tanggal 10 di mana Bali Breakers Resort membagikan beras, mie instan dan telur. 

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: I Putu Darmendra
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved